Subhanallah, Rahmat Allah terus diturunkasn pada hamba-hambaNya, khususnya pada Arnanda Aji Saputra dan mungkin juga yang laennya, tapi atas peristiwa ini sayalah yang merasakan dengan perasaan yang sangat senang dan sangat terasa...hehe.
Batavia, itulah nama kota Sunda Kelapa yang diberikan oleh Belanda. Ibukota Hindia Belanda yang kini jadi nama Jakarta telah padat penduduk dan sangat mencengangkan. Banyak pemanangan kontras yang terjadi dan banyak pula yang sangat menyayat hati. Mulai dari gedung-gendungnya, Plasa-plasanya, orang-orangnya, macetnya, dan kontrasnya pemandangannya serta hangatnya situasi politiknya...subhanallah.
Tatkala ada panggilan tes di Badan Nasional Penanggulangan Bencana, saya sangat senang sekali karena tak pernah menjejakkan kaki di Jakarta ini. Kota metropolitan yang sering muncul di Tipi-Tipi, tapi penuh dengan dilema dan absurditas. Yah,akhirnya aku diijinkan Allah berangkat juga untuk tes di badan pemerintah nondepartemen itu. Senangnya, semoga aku diterima dan bisa membantu banyak korban bencana yang saat ini dan mungkin akan sedang melanda Indonesia.
Pada hari Sabtu tanggal 27 Dzulqo'idah 1431 bertepatan dengan 6 November 2010 saya memasuki gerbang keluar Tol Cikampek di Jakarta. Kemacetan sudah tampak dari pertengahan jalan Tol, itu baru jalan Tol, bagaimana pula jalan biasanya. Ternyata benar, kemacetan pun sangat panjang, tak seperti di Malang yang sejuk dan lengang,m ngebut pun bisa...haha. Tapi di Jakarta, panas dan sangat macet itulah kesan pertama. Padahal saya harus mengambil kartu ujian di Jl. Juanda Jakarta Pusat terakhir pukul 16.00. Sampai gak ya?? alhamdulillah jam tangan menunjukkan pukul 10.00 tepat di terminal Rawamangun saya menurunkan diri.
Berbekal permintaan pada Allah dan keyakinan padaNya tuk menjagaku, aku pun melangkah dan menyanyakan alamat itu. Alhamdulillah, tak begitu jauh ada stasiun bus way dan akupun jalan...ufh, jauh...ternyata capek juga. Akhirnya aku mencoba mikroletnya Jakarta hingga busway. Nah, awal naek bus way...asyiiik. akhirnya naek juga, hanya dengan kocek Rp 3.500,- man..bisa keliling Jakarta sepuasnya...yah, aku sempet diberitahu petugas kalau Jalan Juanda masih jauh dan harus transit dua kali, Berkali-kali juga aku tanya penumpang (ketoro ndesone...xixixi).
Bahasa yang aneh plus genit seperti di tipi-tipi pun tampak. Elu, guwe, terdengar dimana-mana. Pakaian yang serba mini dan sangat ketat seenaknya, begitupula suasana keduniaan yang sangat kental sangat tampak. Gedhung pencakar langit muncul di mana-mana, tak seperti di malang yang hanya ada di beberapa tempat. Itu pun kompleksnya ya di Universitas Brawijaya...haha bravo UB. Akhirnya di pemberhentian Juanda q turun, aku kembali tanyak-tanyak, dimanakah kantor BNPB. Ternyata gak semua orang JKT tau lho, wah harus tanyak ke beberapa orang. Lagakku kayak orang dinesan ja, pake hem, celana hitam, sepatu resmi plus tas jinjing...fuh, yang penting gak kayak orang baru ja...(Cz, kalau orang baru biasa dimainin ma preman-preman sana. Eh ya, ternyata Arema banyak tersebar di sudut-sudut Jakarta lho. The Jack Cz Aremania..ahay)
Akhirnya kutemukan juga yang namanya kantor BNPB dan Alhamdulillah dapet kartu ujiannya. Masalah berikutnya muncul....huaaaa. Aku ke Jakarta hanya tahu 2 tujuan, Kantor BNPB untuk ambil kartu tes dan Senayan untuk tes, tapi hari itu Sabtu dan tesku hari Senin. Lalu??? aku tidur di mana?? Bambong?? digaruk satpol PP mampus ntar...Astaghfirullah, kemana aku harus melangkah??
Jam menunjukkan pukul 13.00 WIB, hal yang membuatku gerah...aku juga belum sholat. Eh teringat bahwa di busway tadi q liat ada tulisan pemberhentian Istiqlal. Masjid yang konon terbesar di Asia Tenggara itu, wah hebat juga...coba ah kan ndak diniatkan safar ke masjid itu, dan mumpung di Jakarta sholat di situ aja. Besaaarnyaaa (ndeso.co.id). Apakah aku bisa tidur di masjid situ ya?? o'ow, tak bisa dan tak boleh...ya udahlah. Akhirnya aku kontak temenku yang baek hati, selama ne berusaha menolongku dalam hal2 yang sangat pribadi...uhuk..uhuk...Aku pun diberi nomor temen2 yang udah lost contac and kehapus entah dimana.
Alhamdulillah balasan muncul, tapi bener2 bingung...dimana itu?? ah gampang wes. Jalaaaan jauh, loh liat ada tugu dengan puncak berbentuk obor kuning, wah MONAS....yah akhirnya q jalan2 di monas, padal masih pakek baju resmi...kayak bocah ilang gak tau arah...ancen....haha. Hingga di monas aku dapet kabar dan saran kalau banyak kosan di Seita Budi, Karet atau Benhil. Nah, karena tesq di Senayan, q tanyak, penginapan mana yang deket tempat tesq. Dijawab, di Benhil peling deket...Benhil??? kayak nama kota di Jerman, whuiks di Indonesia ada ya...seberapa bagus??
Akhirnya dari monas ku susur stasiun busway. Kuq gak nemu, jalan aja wez...lamaaa gitu jalannya jauh lagi. Aku melihat gedung-gedung pemerintahan berjejeran. Mulai dari Kemendiknas, Kemenkeu, Bank Indonesia, hingga Istana Kepresidenan ku telusuri (tapi sayang gak masuk, hehe mudah-mudahan ada kesempatan untuk masuk, tapi bertamu aja...medeni jadi menterinya palagi presiden). Ada polisi plus paspampres berjajar di depan istana, mungkin Pak Susilo Bambang Yudhoyono mau pulang ke Cikeas. Akhirnya tanyak ja ma si polisi. Alhamdulillah, dijawab dengan ramahnya, "adek jalan aja ke sana belok kiri lalu ada musium nasional, nah di depannya itu Dek!!". Alhamdulillah ketemu, tujuan berikutnya, Benhil.
Busway pun bergerak ke arah selatan. "Bundaran HI", speaker busway pun bersuara, wah ini nich yang legendaris...mahasiswa katanya menduduki tempat ini beberapa tahun yang lalu, saat detik-detik presiden kedua dilengserkan, sampai di stasiun koridor terbuka, aku pun tau itu bukan tujuanku. Bus meluncur melalui Jalan Semanggi, wah legendaris juga, puluhan mahasiswa terluka dan beberapa mahasiswa Trisakti juga gugur di situ. Banyak msyarakat yang terbunuh pula di tempat itu, kini jalan itu lengang (cz hari sabtu sore, pada liburan) dan dihiasi gedung pencakar langit yang sangat menjulang.
Bus kembali berceloteh...Bundaran Senayan....Gelora Bung Karno (wah ini tempat tesq)...Senayan...Setia Budi...Karet...Bendungan Hilir...Dukuh Atas...XXX...XXX...Blok M....bus berhenti....Aaaargh....mana Benhil??????. Akhirnya aku menyusuri Blok M, tapi tak mungkin masuk lah, pakaian masih resmi, ganti dimana, toh tempat nginep juga belum dapet, Bambong lakan...
Akhirnya aku pun berencana naik busway lagi dan membayar kocek Rp 3.500. Kemudian liat peta, katanya petugasnya kuq lewat Benhil, tapi mana?? di peta ditulis "Bendungan Hilir"...sebentar...sebentar...?? Benhil = bendungan hilir. Dodol, itu singkatan, orang Indo kan suka nyingkat kata...huaaaa...balik ah. Sambil jalan2
Akhirnya aku ke arah Benhil, tapi diberi kabar kalau temenq kos di setia budi. Yah ke setia budi ja ah, kan satu jalur...yupie. Akhirnya turun setia budi, sayangnya temenku masih keluar jadi suruh cari kos ndiri. Huaaa...Masya Allah, laa quwwata ilaa billah.
Mana tempat kos?? mana penduduk?? adanya hotel menjulang, bisa bangkrut dalam waktu satu hari aku kalau tidur situ. Perkantoran dan departemen2 serta pusat pemerintahan yang ada. Akhirnya tak patah semangat q berjalan menyusuri gedung2 itu. Ada celah antara dua gedung dan kumasuki celah itu...ya celah gedung antara Hotel Grand Sahid (Hotel yang beberapa waktu lalu dibom) dan hotel bermodel Eropa, akhirnya aku menemukan jalan menuju banyak ruko dan aku tanyakan dimana tempat kos-kosan yang murah. "Oya mas, ada banyak tempat kos di sebelah sana, ke utara aja. Alhamdulillah....akhirnya....sebentar, perjuangan cari tempat tidur belum berakhir...
Cari sana sini, tak ada orang yang menerima. Alasannya banyak, mulai yang punya gak ada, hanya menerima bulanan, dan ada pula yang "sebelah sana aja Mas". Akhirnya q sadar, kota ini orang2nya mematok tingkat kewaspadaan tinggi, mungkin lebih dari orang2 di Yogya yang kena merapi sana. Sadarq adalah tatkala aku dilihaaaaat aja ama orang yang punya rumah kos, mulai dari bawah sampai ke atas...Ya, pakaianku formal banget, belum ganti aku..hedew. Ntar dikira ngekos harian ilang2 bawa barang orang (masih mending daripada bawa anak orang....xixixi. Maklum, Jakarta.
Akhirnya alternatif aku cari rumah Allah. Aku ganti dan berwudhu, sholat Magrib jamaah sekalian. Selesai sholat, aku pun mengangkat tangan dan meminta jaminan Allah terhadap diriku dan agar Allah mengutus manusia yang berbaik hati menampungku atau di masid itulah aku tidur, cz udah capeeek banget. Setelah itu aku perhatiin ja posisi takmir, ia berdzikir dan membaca tahlil berdoa bareng, dan itu aku amati terus sambil pura2 berdoa bersama2 mereka. Setelah beroda bersama selesai, mereka sholat sunnah rawatib dan kemudian berdoa sendiri. Setelah selesai aku pun menghampirinya menyampaikan niatanku, alhamdulillah...akhirnya aku dipertemukan orang yang mau menampungku. Dan beliau adalah juga jamaah masjid yang tadi sholat bersamaku. Aku akhirnya boleh tidur di tempatnya...Alhamdulillah hamdan katsiro mubarokan fih. Selamatlah nasibku dari bambong di pinggir monas ataupun istana.....xixixi
Bersambung...>>>
Jakarta, 28 Dzulqa'ida 1431 / 7 November 2010
@nd
Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan
klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Suara Nada Islami
0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan Berdiskusi...Tangan Kami Terbuka Insya Allah