KAJIAN ISLAM DAN KARYA PENA

KAJIAN ISLAM YANG MEMUAT HAL-HAL BERKAITAN TENTANG PENGETAHUAN ISLAM BAIK SADURAN ATAU KARYA ASLI. BAIK HAL AKIDAH, MUAMALAT, FIKIH ATAUPUN TASKIYATUN NUFS (PENYUCIAN HATI)

JUGA KARYA PENA UMUM BERUPA PUISI CERPEN DAN KARANGAN ATAU ILMU PENGETAHUAN UMUM DAN PENELITIAN ILMIAH

Sabtu, 22 November 2014

DEKLARASI NASIONAL PENYELAMAT NKRI

DEKLARASI NASIONAL PENYELAMAT NKRI
“Pasukan Penyelamat NKRI dari Aliran Sesat, Syi’ah, dan Komunis Gaya Baru”

Bismillahi wal hamdulillah, Asholatu wa salamu ‘ala Rasulillah Muhammad Shalalalhu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa shohabihi wa ummatihi ila yauml akhirin. Amma ba’d.

Muqodimah
Segala Puji hanya milik Allah, Dialah Yang Maha Kuasa dan Dialah yang Maha Kuat. Allah berfirman dalam Al-Qur’an Al-Karim, (artinya) “Dan merekapun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari.[1]
Indonesia merupakan negara dengan beraneka ragam, suku, dan budaya. Namun di sisi lain, Indonesia merupakan negara dengan penduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia. Islam, merupakan agama satu-satunya yang diridhoi oleh Allah Ta’ala.
Banyak manusia menyangka bahwa Demokrasi merupakan hal yang baik, hal yang diterima oleh manusia, hal yang mengedepankan HAM dan sebaginya. Mereka merasa bahwa Allah memberikan kebebasan kepada manusia untuk membentuk hukum sendiri. Manusia merasa dirinya pintar, merasa dirinya hebat, padahal hakekatnya mereka tidak mengetahui apapun. Sehingga Allah melarang manusia membuat-buat aturan, hukum, ideologi dan agama sendiri, karena memang mereka tidak memahami hakekat alam semesta dan bagaimana strukutur dunia. Allah-lah Yang Maha Mengetahui, maka Dia memerintahkan manusia untuk taat kepadaNya, sebagai bentuk dan rasa kasih sayangNya.
Manusia, hanyalah makhluk yang diperintah untuk menjalani kehidupan sesuai dengan petujuknya, dan akal membantu mereka membuat sesuatu lebih baik dalam konteks teknis untuk menunjang hidup mereka guna menyesuaikan dinamika kehidupan yang lebih baik. Fungsi akal hanyalah untuk wilayah teknis bukan ideologi, bukan agama, bukan pula dasar-dasar hukum. Sebagaimana akal adalah membuat baju yang lebih indah dan sejuk, mengembangkan teknologi, mengembangkan transportasi, menguak sedikit atas misteri dari kasus-kasus yang memang harus dipecahkan, bukan membedah serta menemukan ideologi. TIDAK, dan TIDAK sama sekali.
Hanya saja, banyak manusia ingin bebas sebebas-bebasnya. Mereka merasa pintar untuk membuat aturan yang mereka pikir mampu menyejahterakan hidupnya, padahal itu hanyalah memanjakan nafsu liarnya. Mereka ingin menggulingkan orang-orang yang menghambatnya dan memangkas aturan yang tidak sesuai dengan nafsunya. Allah berfirman, “Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al Quran) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.[2]
Maka mereka yang merasa pintar dan menuruti hawa nafsunya membuat makar untuk menjatuhkan Agama Allah, merusak Islam, menghina Kaum Muslimin. Mereka seakan tidak takut resiko apapun, padahal neraka lebih dekat dengan lehernya bila mereka tidak bertaubat. Mereka terus dan terus membuat makar.
Di Indonesia, makar musuh-musuh Islam sudah mencapat taraf peningkatan yang signifikan. Munculnya banyak aliran sesat baik muncul dari lokal seperti Mosadeq, Lia Eden, LDII/Lemkari, NII, Darmo Gandhul, dan lain sebagainya, hingga kesesatan internasional seperti Syi’ah, Ahmadiyah, Baha’iyyah, dan sebagainya. Begitu juga gerakan separatisme serta gerakan yang mengacaukan faham ketuhanan dan lebih bersandar kepada faham sosialis palsu (baca KOMUNIS) yang di Indonesia dikenal sebagai gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Dan merekapun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari.” Segala Puji bagi Allah, akhirnya Kaum Muslimin di Malang dan beberapa daerah di Indonesia mulai mengadakan pergerakan persatuan Islam. Mengingat Islam saat ini terpecah belah menjadi bagian-bagian. NU, Muhammadiyah, Salafiyah, Persis, Al-Irsyad, dan sebagainya. Mereka memiliki satu sesembahan dan Rasul yang menjadi panutan dibingkai dalam satu kalimat Laa ilaha ilallah, memiliki kitab yang satu Al-Qur’an, rukun iman yang enam, dan rukun Islam yang lima, tetapi mereka beradu dan berseteru hanya karena masalah furu’iyyah (perbedaan hukum-hukum cabang/perbedaan teknis). Sedangkan mereka tidak memahami bahwa adal masalah perbedaan ‘ushul (pokok keimanan) yang jelas-jelas tujuannya merusak Islam sedang merong-rong negeri NKRI.
Berawal dari sinilah Kaum Muslimin Malang, mengadakan sebuah pertemuan persahabatan dari seluruh elemen Kaum Muslimin dalam berbagai partai, tokoh masyarakat, NU, Muhammadiyah, Persis, Al-Irsyad, dan sebagainya, juga duduk dalam deklarasi persatuan intelejen, TNI, POLRI, dan aparat serta tokoh masyarakat. Mereka sepakat bersatu di bawah satu bendera Laa ilaha ilallah untuk mendukung NKRI yang damai dalam persaudaraan. Dalam bingkai aqidah salimah dan dalam bingkai rahmatalil ‘alamin.
Deklarasi dilaksanakan di Pondok Tahfidzul Qur’an “Al-Firqotu An-Najiyyah” Karang Ploso, Kabupaten Malang. Letaknya tepat di belakang ARHANUD, pertahanan udara TNI-AD. Tokoh yang mewakili pembacaan deklarasi adalah: Ust. Andri Kurniawan (pimpinan Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Firqotun Najiyyah; Habib Zein Al-Kahf (Mantan Ketua MUI Jatim dan Tokoh MUI Jatim); K.H Khoiril Ma’shum (Ketua MUI Sampang Madura); Ust. Alfian Tanjung (Tokoh dan Intelejen Pergerakan Komunis Indonesia); Kol. Herman Ibrahim (Mantan Ketua Badan Intelejen Negara); Prof. DR. Ust. Baharun (Ketua MUI Pusat Jakarta); DR Zein An-Najjah (Ketua Bidang Dakwah Indonesia); Ust. Achwan (Tokoh Da’i Kota Malang); dan Syaikh Utsman bin Ali al-Makki (Perwakilan Ulama Internasional dari Makkah Kerajaan Saudi Arabia).
Sebelum deklarasi, masing-masing tokoh menyampaikan orasinya. Dimulai dari pembacaan Tilawatil Qur’an oleh Syaikh Utsman bin Ali al-Makki dilanjutkan dengan orasi demi-orasi.
1. Orasi Pertama Oleh Prof. DR. Ust. Baharun (Tokoh MUI Pusat Jakarta)
a. MUI salah satu misinya adalah mengawal aqidah umat Islam agar berjalan lurus sesuai Al-Qur’an dan As-Sunnah sahihah sebagaimana difahami oleh para sahabat dan siapapun yang mengikuti mereka, melindungi hak-hak kaum muslimin atas pelaksanaan syariat dan perlindungan kepada seluruh kaum muslimin dalam menjalankannya.
b. Perbedaan yang membangun memang harus dilestarikan sebagaimana perbedaan madzhab adalah sarana menuju kekayaan bab ilmu fiqih. Akan tetapi tatkala perbedaan itu sudah mengarah kepada keyakinan atau kepada aqidah, maka perbedaan inilah yang disebut perbedaan yang merusak. Dalam perbedaan yang kedua inilah pemerintah dan MUI harus mengamputasi hal-hal yang merusak agar tidak menyebar dan menggerogoti sendi-sendi kehidupan beragama.
c. Kita tahu bahwa Syi’ah, Komunis, Salibis, Ahmadiyah, dan aliran-aliran yang berbeda agama dengan Islam adalah mereka yang tidak diridhoi Allah secara hakekat. Karena mereka bersifat merusak dan mengancam kehidupan dunia dan akherat umat manusia. Maka inilah yang harus diamputansi, bukan dipelihara dan diakomodir oleh negara.
d. Guna memberantas dan mengamputansi para aliran sesat tersebut, maka umat Islam hendaknya bersatu padu dalam satu kesatuan barisan. Selain itu mengabaikan permasalahan furu’iyyah dan larangan pula untuk memompanya sehingga menjadi masalah besar. Tetapi faktanya, justru yang paling berat bukan masalah ektrenal melainkan internal itu sendiri karena adanya banyak perpecahan di kalangan umat Islam.
e. Bila umat Islam tercabik-cabik, maka boleh jadi NKRI akan terpecah belah, karena komponen utama NKRI adalah Umat Islam dan TNI. NKRI sebagai ladang untuk kenyamanan tempat tinggal, bersatunya kekuatan Umat Islam, serta medan menyusun kekuatan dakwah akan bertambah lemah dengan pecahnya NKRI, Islam pun akan semakin terancam dengan pecahnya NKRI. Maka NKRI adalah Negara Kesatuan yang merupakan modal besar untuk membangun sebuah peradaban Islam lebih maju dan lebih kuat lagi.
f. Negara-negara yang tidak tegas dengan gerak perkembangan Syi’ah sebagaimana Iraq (Setelah Sadam Husein), Yaman, Suriah, dan yang lainnya maka tercabik-cabiklah negara itu. Sedangkan Maroko, Malaysia, Muritania, dan negara-negara yang tegas menolak Syi’ah mereka mengalami ketenangan dan kenyamanan dalam kehidupan bernegara dan berislam mereka.
g.  Halangan-halangan untuk memberantas Syi’ah dihambat oleh orang-orang yang mengatasnamakan HAM dan Toleransi, mereka boleh jadi tidak mengetahui hakekat penghancuran dan bahayanya Syi’ah maupun aliran sesat yang lain, tetapi boleh jadi memang mereka lebih mementinngkan urusan dunia dan materi duniawi daripada urusan akherat.
h. Intoleransi agama yaitu perbedaan dalam hal Aqidah. Selain Islam aqidahnya merusak dan itu berdapak pada syariah dan proses kehidupan sehari-hari hingga kehidupan berbangsa dan bernegara.
i. Kecintaan kepada Allah, Islam, dan Rasulullah serta para sahabatnya adalah hal yang mutlak diupayakan.
2.  Orasi oleh K.H. Bukhari Ma’shum: Ketua MUI Sampang
a.  MUI Sampang menyatakan dengan tegas bahwa ajara Tajul Muluk (Syi’ah) adalah SESAT dan MENYESATKAN.
b.  MUI se-Madura setelah peristiwa Tajul juga menyatakan dengan tegas sikapnya bahwa Syi’ah sesat dan menyesatkan.
c. Dengan desakan seluruh ulama mengatasnamakan organisasi resmi MUI se-Madura, mendesak MUI Jawa-Timur mengkaji kembali Syi’ah serta mendesak mengeluarkan fatwa. Akhirnya MUI Jawa-Timur mengeluarkan fatwa tegas tentang sesatnya Syi’ah.
d. Ternyata ada salah satu tokoh yang mengkritik fatwa MUI Jawa-Timur dan menyatakan bahwa Syi’ah sama saja dengan Sunni, sehingga MUI Jawa-Timur bergerak cepat untuk mengadakan dialog dan diskusi dengan ulama tersebut. Tetapi setelah dialog dilakukan, ternyata memang diketahui bahwa seluruhnya sepakat Syi’ah sesat dan menyesatkan.
e.  Setelah peristiwa Tajul Muluk, banyak pengungsi, maka Presiden mendesak MUI Sampang dan se-Madura untuk bisa membuka pintu bagi Tajul dan pengikutnya. Masyarakat seluruhnya sepakat bahwa mereka terbuka terhadap Tajul dan pengikutnya dengan syarat: “mereka harus kembali kepada ajaran Ahlusunnah wal Jamaa’ah. Jalan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam.” Atau mereka harus transmigrasi dan dibuang ke wilayah yang jauh dari umat Islam bila memang tetap tidak mau masuk ke dalam ajaran Islam.
f.  Dikatakan apakah melanggar HAM? Maka Pengusiran dan amputasi terhadap kelompok sesat adalah sebab syar’i untuk melakukan sesuatu. Potong tangan tanpa sebab melanggar HAM, tetapi tatkala ada sebab itulah yang syar’i, tatkala tidak dipotong tangannya itulah yang justru melanggar HAM lebih banyak orang lagi, karena mereka justru mengancam harta, jiwa, dan kehormatan masyarakat banyak. Oleh sebab itu Tajul (Syi’ah) adalah di dalam kasus ini.
g. Oleh sebab itulah, maka Tajul dipenjara selama 4 tahun penuh dalam tuntutan yang ada pada mahkamah Indonesia.
3.  Orasi oleh Habib Zain Al-Kahf (Tokoh Senior MUI Jawa Timur)
a.  Bahaya apabila Syi’ah dibiarkan. Bila ini terjadi boleh jadi akan berkembang konflik sebagaimana di beberapa wilayah Timur Tengah dan negara Islam lainnya. Bahkan di Jawa Timur Syi’ah sudah berani menunjukkan taring dan kedoknya padahal jumlahnya baru sedikit.
b.  Syi’ah sesat karena mereka menghina Raaulullah, istri-istrinya, para sahabatnya, serta tokoh-tokoh ulama Islam dan Muslimin.
c. Indonesia juga menjadi ladang pemurtadan besar-besaran baik murtad ke agama lain maupun ke aliran sesat. Hal ini bertujuan untuk merusak iman Kaum Muslimin Indonesia. Bila iman bangsa Indonesia rusak akan merusak kestabilan NKRI.
d.  Syi’ah sangat berbahaya, karena selain bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah, Syi’ah juga diback up oleh suatu negara yang kaya dengan backingan Amerika.
e.  Perbedaan Sunni-Syi’ah bukan hanya perbedaan sebagaimana NU-Muhammadiyah. Karena Syi’ah berbeda secara pokok dengan Sunni. Rukun Islam dan Imannya pun berbeda.
f.  Cara menentukan sesat dan tidaknya masalah keyakinan hanya dilakukan dengan mencocokkan Al-Qur’an dan Sunnah. Ternyata Syi’ah berbeda banyak dengan ajaran yang diturunkan oleh Allah.
g.  Seharusnya Kaum Muslimin bersatu, tidaklah ribut dengan ushul (perbedaan yang diambl dari Sumber Al-Qur’an dan Sunnah) maka tidak perlu diributkan.
4.  Orasi Ust. Alfian Tanjung
a.  Fakta gerakan PKI saat ini
     - Dibebaskannya sekitar 475 kader PKI dari P. Buru oleh SBY
     - Diterbitkannya buku”Aku Bangga Jadi Anak PKI”
     - Gerakan PKI terbagi 3: Ilegal, Pemerintahan, dan Pendidikan
- PKI berkembang pesat tanpa didengus aparat, karena aparat sibuk memata-matai Umat Islam dan merespon pesanan luar senilai jutaan bahkan milyaran rupiah
- Kader-kader PKI yang kini mulai bangkit kembali melakukan perilaku sebagaimana tahun-tahun 60-an. Menggali sumur kosong dan menandai rumah-rumah kosong.
5.  Kolonel (purn) Herman Ibrahim
a.  Perang ke depan diperkirakan terjadi adalah perang global (non state) antara pendukung Islam dan pendukung musuh-musuhnya.
b. Demokrasi adalah senjata untuk menuju perang global generasi ke-4.
c.  Untuk menggalang kekuatan maka harus ada persatuan, dimulai dengan persatuan NKRI.
6.  Ust. Ir. Andre Kurniawan
a.  Pada tahun 1988 ada tokoh ulama memberikan orasi yang disampaikan, bahwa ada pertemuan kristenisasi di Colorado untuk Kristenisasi di Pulau Jawa dan terkumpul dana USD 1 M.
b.  Hasilnya bila dilihat 4 sumber lembaga survey nasional, tahun 90-an umat Islam secara kuantitatif 92%. Ternyata tahun 2000 umat Islam Indonesia tinggal 79%. Diungkap juga oleh majalah Transformasi
Indonesia bahwa tahun 2000 mereka berhasil memurtadkan Umat Islam Indonesia sebanyak 7 juta orang. Diteruskan hingga tingkat nasional adalah nyata.
c.  Richard menyatakan pada 7 Mei 2003 di New York Times, bahwa musuh tunggal Amerika pasca Uni Soviet adalah Islam dan Muslimin.
d.  Indonesia negara terbesar penduduk Muslimnya di dunia, tapi aqidahnya lemah. Maka Indonesia menjadi target utama Kristenisasi Dunia tahun 1920.
e.  Kristenisasi memiliki Doktrin Milenium Sejahtera:
-    Menghabisi Kaum Muslimin
-    Menjadikan Yerusalem menjadi Ibukota Abadi
-    Penghancuran Masjid Al-Aqsha
Karena Indonesia merupakan negara Muslim terbesar di dunia, maka termasuk negara yang dijadikan target pemusnahan.
f.  Maka solusinya adalah:
-    Lakukan pengetahuan aqidah wala’ wal bara’
-    Jihad fi sabilillah
-    I’daad
-    Persatuan Shoof di tengah-tengah umat
-    Generasi Umat Islam yang Robbani sebagaimana dalam Al-Maa’idah: 54
7.    Dr. Zein An-Najjah
a.  Pusat kajian termasuk garda depan dalam membendung aliran sesat
b.  Kelemahan umat Islam tak ada kajian, manajemen, keilmiahan, dan dana
c.  Kemunduran umat Islam adalah karena kebodohan umat Islam itu sendiri, yaitu kebodohan dalam syariat dan terhadap konspirasi bangsa-bangsa selain Islam.
d.  Agar Islam ini menang, maka umat Islam harus kembali kepada Allah. Karena Allah-lah yang mengatur semuanya. Memang Allah mudah memenangkan Umat Islam, tetapi hamba-hambaNya juga dituntut berjuang dan bergerak sesuai SyariatNya. Kita tidak peduli dengan kemenangan itu dan beserta kekalahannya dalam perjuangan, karena hasil hanyalah di tangan Allah, begitu juga dengan hakekat kemenangan. Tugas kita hanyalah berjuang sesuai dengan syariat Allah.
8.  Ust. Achwan: Amir Dakwah Kota Malang
a. Umat Islam harus bermuhasabah.
b. Umat Islam harus berhati-hati dengan fitnah.
Itulah orasi-orasi yang disampaikan oleh tokoh-tokoh Indonesia baik dari kalangan Intelejen, Militer, Pengamat dan Ulama. Demikianlah sebelum deklarasi dibacakan. Setelah selesai orasi, mulailah seluruh tokoh berjajar dan Kaum Muslimin pun berdiri menyaksikan deklarasi dibacakan.
Deklarasi Nasional dapat disaksikan dalam video sebagai berikut:

Karangploso (Kab. Malang) 26 Oktober 2014.









[1] Al-Qur’an; Surah An-Naml: 50
[2] Al-Qur’an; Surah Al-Mu’minun: 71
Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Suara Nada Islami

Selasa, 21 Oktober 2014

SELAMAT JALAN GURUKU

SELAMAT JALAN GURUKU
AL USTADZ FAIZ NAJIH AL-BIN SA’ID RAHIMAHULLAH TA’ALA

Dengan menyebut Asma Allah dan Segala Puji hanya milikNya, Tuhan Semesta Alam. Yang merajai hari-hari dunia dan hari-hari pembalasan, dan memegang nyawa setiap insan. Semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada panutan seluruh umat di semesta, Imamul Anbiya, utusan Sang Pencipta,Muhammad ibn Abdillah. Dan semoga shalawat dan salam juga tetap tercurah kepada keluarganya, para sahabatnya, serta umatnya yang terus mengikuti jalannya dan menyerukan kepada jalannya hingga akhir zaman. Amma ba’d.

Entah mengapa hari-hari terakhir ini terasa kehilangan sesuatu yang indah, sesuatu yang dahulu dirindukan pencerahannya, semangatnya, dan wasiat-wasiatnya. Sosok yang penuh gelora semangat dakwah, menyerukan kebaikan dan menyerukan pentingnya JIHAD FI SABILILLAH (berjuang di jalan Allah) kini telah tiada. Beliau dipanggil oleh Allah dengan QadarNya dalam keadaan SYAHID insya Allah. Dan kini beliau beristirahat di liang lahat yang penuh barokah, penuh kedamaian, penuh kenyamanan dan nikmat setelah beliau berhasil menjawab pertanyaan kubur. Wallahu a’lam, semoga Allah merahmati beliau. Aamiin.

Profil Ustadz Faiz Najih Al-Bin Sa’id
Saya bukanlah seorang santri beliau yang sangat dekat, tidak pula pernah mengikuti mulazammah dalam kajian-kajian khusus beliau, tidak pula pernah datang ke rumahnya, akan tetapi kedekatan itu tetap melekat dalam hati saya dan saya menganggap beliau adalah salah satu guru saya yang berjasa besar dalam hidup saya. Karena dari beliaulah semangat memegang Islam dan Sunnah, semangat dakwah dan jihad terus menggelora dalam dada.

Saya hanyalah santri yang mengenal beliau semenjak SMA, dimana beliau sesekali diundang oleh teman untuk datang mengisi kajian rutin khusus dalam organisasi BDI (Badan Dakwah Islam) SMA Negeri Favorit di Kota Malang. Saya lupa apa saja yang beliau sampaikan semenjak SMA itu, akan tetapi saya mengenal beliau sosok yang ‘sangar’, tegas, namun berwibawa.

Hubungan antara saya dengan beliau sedikit memudar setelah lulus SMA, saya diombang-ambing dengan dunia kampus yang cukup hingar dan mengerikan. Belum lagi Bom Bali 1 dan 2 menyebabkan orang tua saya (yang belum mau ngaji saat itu) menjadi kelabakan dan mudah disetir oleh media. Saya pun demikian halnya, walau sudah faham tentang Islam yang lurus dan yang melenceng, namun tetap tidak faham dengan dunia kampus dan segala rahasianya.

Akhirnya saya bertemu dengan beliau kembali, setelah saya merasakan kesumpekan dalam menjalankan organisasi seni intra kampus yang penuh dengan hawa nafsu dan kebohongan. Penuh dengan ambisi ketenaran dan ambisi duniawi, saya pun terkadang curi-curi waktu saat antara latihan karawitan dengan pergi ke masjid. Terkadang pula mendapati beliau berceramah dengan semangat yang bergelora di masjid utama kampus. Semenjak saat itu, keinginan untuk keluar dari organisasi ‘setan’ itu terus bergelora. Segala Puji hanya milik Allah, saya pun akhirnya kembali kepada jalan yang diridoiNya mulai saat itu hingga mati nanti, insya Allah.

Berdasarkan pengamatan sekilas, saya yang hanya mengikuti kajian rutin beliau setiap hari senin sore Ba’d maghrib sampai Isya’ di Masjid Abu Dzar al-Ghifari Kota Malang, saya melihat adanya kewibawaan dalam tampilan beliau. Kesederhanaan menjadi ciri khas beliau, beliau hanya mengendarai sepeda butut tahun 70-an hingga akhirnya ada salah satu jamaa’ah yang menghadiahi beliau dengan sepeda motor lebih bagus. HP yang beliau miliki juga HP jadul hitam-putih, bukan Java apalagi Android dan I Phone.

Secara fisik beliau kurus, berkulit agak hitam. Di dahi beliau terdapat tanda bekas sujud dan jenggot beliau lebat. Namun, tampilan fisik beliau yang kurus tidak menampakkan beliau orang yang lemah, bahkan semagatnya berdakwah sangat membara. Walau mungkin sebagian orang mengatakan bahwa beliau seringkali berbicara lantang dan belum sampai pada tahap action, akan tetapi saya memandang bahwa beliau sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Syafi’i kepada salah seorang yang dituduh demikian mengatakan, “Jangan kalian bicara seperti itu, sesungguhnya dia telah sampai pada ilmunya.” Sesungguhnya Ustadz Faiz telah membuktikan semangat beliau dengan bukti-bukti yang bisa disaksikan manusia. Beliau menyampaikan ilmu dan beliau tunjukkan secara nyata dengan semangat dakwahnya.

Beliau hampir tidak pernah absen mengisi kajian dengan alasan sakit, kecuali memang sakit beliau menyebabkan beliau tidak kuasa untuk mengemudikan motornya. Beliau tidak berkenan dijemput, kecuali dahulu saat sebelum bisa mengendalikan sepeda motor karena memang hal itu adalah hal yang urgen. Beliau pernah berkata, “Semua sakit-sakit hilang saat dakwah, pusing-pusing, flu, batuk, pilek, ilang sudah!”

Penyampaian beliau penuh semangat, bahkan bagi penggemar Soekarno dan Bung Tomo mungkin belum melihat hal yang sama dengan semangat beliau. Tatkala ceramah beliau berapi-api mengobarkan semangat dakwah, semangat menuntut ilmu, semangat menjalankan syariat dan menegakkannya, serta semangat jihad. Itulah yang terus beliau serukan. Kobaran semangat untuk menentang kaum kafir dan munafik terus beliau gelorakan. Kobaran semangat untuk berlindung kepada Allah dari berbagai fitnah terus beliau wasiatkan.

Beliau ustadz yang anti dengan ‘patokan tarif’. Beliau sangat marah bila ada orang yang menanyakan berapa tarif yang harus dibayarkan kepada beliau untuk ‘tips’ mengisi kajian. Beliau pernah menyinggung seseorang itu saat mengisi di masjid Abu Dzar Al-Ghifari Kota Malang, “Waktu saya mengisi kajian di suatu kota, tiba-tba ditanya, ‘Tarifnya berapa ustadz’. ‘Loh emangnya saya ini siapa pakai tarif-tarif segala...’” Lantas beliau menyitir pernyataan Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah, “Imam Hasan Al-Basri pernah ditanya, ‘Wahai Imam, kajian Anda penuh sesak dengan manusia, ada kaya dan miskin, tua dan muda?’ Apa jawab Imam Hasan Al-Basri? ‘Mereka butuh dengan ilmu saya, dan saya tidak mengusik harta mereka’” Ustadz Faiz menyampaikan dengan gaya yang khas penuh semangat. Ustadz menambahkan, “Emang antum kira dakwah ini ringan? Enak saja! berrat dakwah ini, apa ada yang berani menggantikan saya di sini?! Kalau berani silahkan! berrat ini, urusan umat! Dakwah ini bukan untuk cari uang, ustadz-ustadz yang minta tarif itu ustadz-ustadz karbitan. Dakwah ndak main-main!”

Dalam berdakwah pun beliau selalu mengingatkan jamaa’ah agar selalu fokus dan tahan terhadap ujian menuntut ilmu. Bila ada yang tidur, tak segan-segan beliau membangunkan dengan tegas tapi kemudian diajak bercanda sesuai syariat. Beliau berkata, “Ayo Banguuun! Coba-coba bangunkan itu bangunkan. Naaah fokus, ngaji itu harus kuaaat. Yang duduk di sini harus kuuuat, ustadznya ngajarnya ndak main-main. Jangan bersandar, nanti ngantuk. Yang bersandari hanya orang yang usianya 90 tahun ke atas!! Ayo maju, ayo!” Sambil tangannya mengisyaratkan semuanya untuk maju. “Tidak boleh lihat jam, yang boleh hanya ustadznya! Ngaji hanya mulai ba’da maghrib sampai isya’ itu kurang, kalau perlu sampai subuh gitu loh!”

Beliau juga ustadz yang sangat memegang teguh aqidah Islam. Dengan aqidah yang kuat, beliau tidak takut dengan tantangan apapun yang diungkapkan oleh makhluk bahkan resiko kematian sekalipun. Beliau mengatakan dengan penuh semangat, “Manusia itu hanya ada dua pilihan, kalau ndak HIDUP ya MATI gitu loh! Jadi ndak usah bingung.” Beliau juga menasehatkan untuk tidak galau di masa depan, “Banyak orang yang menyekolahkan anaknya tinggi-tinggi, tapi ndak faham dien (agama). Buat apa? Katanya buat masa depan, KUBURAN itu masa depan!” Beliau mengungkapkan dengan semangat dan gaya yang khas, hadirin dalam suatu majelis pun tertawa.

Aqidah adalah hal yang paling penting. Pernah beliau sampaikan tatkala meruqyah orang yang diganggu oleh Jin. Karena beliau juga ahli dalam meruqyah, maka beliau banyak dijadikan rujukan. Salah satunya beliau pernah berkata, “Di salah satu masjid yang saat itu khotibnya saya, waktu iqomah sholat Jum’ah dikumandangkan, ndadak (mendadak) ada orang kesurupan. Langsung saya datangi dan saya sabetkan (lecutkan) sorban saya ini, qodarullah langsung sembuh. Eh, setelah sholat Jumat ada orang yang mendatangi saya tanya, ‘berapa harga sorban itu ustadz?’. ‘Ngawur aja sampean ini! yang menyembuhkan itu Allah, bukan sorban saya!’. Ya ini kalau ndak faham aqidah ya ini jadinya!”

Sosok yang tegas, kocak, penuh semangat dan terus menggelorakan jihad. Kini sosok itu telah tiada.

Wafatnya Sang Ustadz Rahimahullah Ta’ala
Pukul 06:00 WIB saya mendapat SMS dari salah seorang teman yang mengabarkan tentang meninggalnya Ustadz. Saat saya membuka inbox SMS. Pertama yang muncul potongan kalimat istirja’, penasaran dengan siapa yang meninggal lalu saya buka keseluruhan dan betapa kagetnya setelah ada tulisan ‘Ustadz Faiz Najih meninggal akibat kecelakaan’. Saat istri dan saudara saya kabari betapa kagetnya mereka. Ternyata di Tab saya pun juga penuh dengn kabar dari BBM dan Whatsapp tentang meninggalnya Sang Ustadz, begitu juga setelah membuka facebook banyak konfirmasi tentang wafatnya.

Polemik meninggalnya ustadz pun menjadi perbincangan, kapan disholatkan dan dimakamkan. Akhirnya setelah ada kepastian resmi dari Ust. Abdullah Hadhromi bahwa jenazah Ustadz Faiz akan disholatkan dan dimakamkan ba’da ashar barulah kami pun berencana langsung mendatangi Masjid An-Nur Jagalan Kota Malang mendekati ashar.

Menurut kabar berita, ustadz Faiz pada malam hari sekitar pukul 01:00 dini hari selesai menghadiri pernikahan keponakannya di Surabaya. Boleh jadi karena dikejar waktu untuk aktivitas esoknya, belum lagi ada beberapa jadwal kajian yang harus beliau isi ba’da subuhnya. Perjalanan memasuki Tol Waru-Sidoarjo arah Malang pun ditempuh pada dini hari dengan kecepatan tinggi. Saat itu yang menyetir mobil adalah keponakannya, dengan mengendarai mobil Avanza, ditumpangi oleh Istri beliau, dan ketiga anaknya (Jamila, Nuzula, dan Adiba). Mobil melaju ke arah Kota Malang dengan kecepatan tinggi, boleh jadi di atas 100 KM/Jam.

Sampai kepada beberapa kilometer setelah palang pintu masuk jalan Tol Sidoarjo, sopir berusaha menyalip Ambulan yang menghalanginya. Namun qadarullah telah terjadi, Ambulan yang ada di depan mobil pun tidak mau mengalah, akhirnya mobil saling mendekat dan terjadilah serempetan antara mobil yang ditumpangi Ustadz dengan Ambulance tersebut. Karena kondisi kecepatan tinggi, keponakannya ustadz Faiz yang saat itu menjadi sopir tidak kuasa menguasai kendali mobil. Secara reflek setir pun dibanting ke kiri yang menyebabkan kejadian fatal menimpa mereka. Mobil oleng ke kiri dan terguling dengan kecepatan tinggi lantas menabrak pembatas jalan sebelah kiri. Ustadz yang saat itu duduk di deretan kedua dengan memangku Adibah, puterinya berusaha melindungi puterinya tersebut akan tetapi terkena dampak yang paling parah. Begitu juga puterinya Adibah yang mengalami patah tulang dan pendarahan hebat.

Keponakan beliau mengalami patah tulang kaki, istri beliau mengalami patah tulang rusuk dan kaki, hanya 2 puteri beliau (Jamila dan Nuzula) yang tidak mengalami apapun kecuali luka-luka ringan. Merekalah saksi kunci yang tidak terluka parah. Semua dilarikan ke rumah sakit terdekat, akan tetapi qadarullah mendahului semuanya, Ustadz Faiz pun meninggal beberapa jam kemudian. Urusan administrasi rumah sakit menyebabkan penundaan pemakaman hingga ba’da ashar.

Menjelang jenazah Ustad Faiz disholatkan, terdengar kabar berita Adibah, puteri bungsu beliau wafat menyusul ayahandanya. Mendengar Adibah wafat, Jamila pun kaget dan jatuh pingsan, saat itulah diketahui bahwa ternyata Jamila mengalami gegar otak ringan akibat benturan saat kecelakaan. Satu-satunya yang sehat dan menemani mereka adalah Nuzula kecil, dia pun membantu semua keluarga besarnya untuk memantau perkembangan ibunya dan saudaranya. Saat Ibunya sadar dan bertanya, “Nak, dimana Abi?” Nuzula berkata, “Sudahlah Umi, Abi sudah diurus sama ikhwan-ikhwan. Sudah ada yang ngurus, ndak usah mikir Abi.” Padahal saat itu Nuzula telah mengetahui bahwa sang ayah telah wafat mendahului mereka semua. 
Kini saat artikel ditulis, kondisi Istri Sang Ustadz masih lemah di rumah sakit. Semenjak masa kritisnya sudah terlewati, beliau harus dioperasi selama enam jam dengan biaya yang sangat besar. Namun, kaum Muslimin semua saling bahu membahu mengulurkan bantuan untuk merawat mereka. Operasi patah tulang rusuk dan kaki, begitu juga sopirnya yang juga berstatus sebagai keponakannya serta perawatan Jamilah yang mengalami gegar otak ringan. Hanya nuzula yang tidak terkena dampak apapun kecuali terluka sedikit.

Ustadz faiz Najih Al-Bin Sa’id memiliki 6 (enam) orang anak, 3 (tiga) putera dan 3 (tiga) puteri secara berurutan. Mendengar kabar kematian ayahnya, sang anak sulung pun memerintahkan segera menguburkan Abinya sesuai dengan wasiat ayahnya semasa hidup, “Kalau orang wafat itu segera untuk diurus dan dimakamkan.” Itu wasiat yang pernah disampaikan Ustadz Faiz saat mengisi ta’lim. Akan tetapi tatkala mendengar kabar kematian Adibah, sang putera sulung berwasiat untuk tidak menguburkan adiknya sebelum dia datang ke Kota Malang. Mengingat perjalanan dari Isy Karima (Solo) menuju Malang, membutuhkan waktu sekitar 6-7 jam. Akhirnya Adibah pun dimakamkan ba’d Isya’.

Prosesi Pemakaman Sang Ustadz
Prosesi pemakaman Ustd Faiz al-Bin Sa’id inilah yang sempat saya saksikan dengan mata kepala saya sendiri dan langsung di tempat kejadian. Tepatnya di Masjid An-Nur Jagalan Saleyer Kota Malang.

Rencana sholat jenazah akan dilaksanakan ba’da sholat ashar (sekitar pukul 14:50), penulis saat itu berencana berangkat pukul 15:30. Betapa kagetnya penulis saat melihat kendaraan roda dua dan empat berjajar dengan berbagai jenis dan merek. Tidak biasanya bila ada kematian seramai ini. Penulis pun berusaha menerobos kerumunan masa menuju masjid, penuh sesak seakan menguburkan syaikh di Masjid Al-Haram. Penulis pun tak kuasa memasuki masjid yang sangat padat jumlahnya.

Mengingat jumlah pelayat yang sangat banyak, akhirnya sholat Ashar pun dilaksanakan dua gelombang. Gelombang pertama sangatlah sesak, bahkan jalan-jalan kampung di sekitar masjid penuh dengan manusia yang menjalankan sholat ashar. Mereka dari berbagai suku, ras, dan juga daerah. Seluruh kaum Muslimin berduka, bukan hanya Kota Malang saja akan tetapi Kaum Muslimin di Seantero Pulau Jawa, Bali dan Kalimantan merasakan kesedihan yang sama.

Saya pun diberi kesempatan oleh Allah melaksanakan sholat Ashar pada gelombang pertama. Setelah selesai menjalankan sholat, saya mundur ke belakang (memberikan kesempatan pada jamaah untuk sholat Ashar gelombang kedua). Saya menemukan keranda jenazah yang sepi dari manusia, hanya beberapa orang yang duduk di sekitarnya. Ternyata setelah saya tanya orang yang berada di sampingnya, isinya adalah jenazah ustad Faiz.  

Ini kesempatan buat saya untuk berikhtiar agar bisa sholat berjamaah di shof depan. Tatkala sholat ashar selesai, manusia mulai tertuju pada keranda yang ada. Mereka semua berebut mengangkatnya, akan tetapi 4 petugas pengangkat telah mengangkatnya dengan diiringi beberapa manusia termasuk saya. Alhamdulillah saya pun bisa sholat jenazah di gelombang pertama dengan barisan depan.

Sholat jenazah juga dilaksanakan dua gelombang. Setelah selesai melaksanakan sholat jenazah gelombang pertama, saya pun langsung menuju ke pemakaman Kasin. Saya berfikir bahwa manusia terfokus pada pengantaran jenazah dari masjid menuju pemakaman setelah sholat jenazah gelombang kedua selesai dilaksanakan, sehingga saya mendahui jamaa’ah ke pemakaman. Alhamdulillah makam pun sepi, ada dua liang lahat yang telah digali, satu milik Al-Ustadz dan yang satu milik Adibah. Saya pun mendekat ke posisi paling dekat dengan liang, di saat itulah kemudian muncul Al-Ustadz Abdullah bersama teman-teman kajian yang lainnya.

Berselang cukup lama, manusia pun berduyun-duyun mendatangi pemakaman. Jenazah tampak mulai didatangkan dengan proses berimbal. Setelah keranda dibuka, jenazah pun diangkat. Di sinilah hal yang belum pernah saya lihat selama ini benar-benar tampak. Beberapa tetesan darah merembes keluar menembus kain kafan dengan warna yang segar. Seakan seperti mujahid di medan pertempuran, sebagaimana Allah nanti akan membangkitkan mereka bersama pakaian dan darah mereka yang bercucuran dengan bau wangi kesturi.

Secara logika kejadian pada pukul 01:00 dini hari, dan meninggal tidak berselang lama dari jam 01:00. Waktu ashar adalah jam 14:40 saat itu, sehingga darah pun mengering. Terlebih setelah ada tim khusus dalam pemandian jenazah dan pembersihan luka-luka, maka otomatis darah pun kering dan tidak terlihat dari luar. Tapi ini berbeda, darah terlihat merembes dari kain kafan dan berwarna merah segar. Seakan baru saja kejadian itu menimpa beliau. Allahu Akbar!!!

Setelah jenazah dimasukkan ke liang lahat dan ditutup sempurna dengan tanah, batu nisan pun ditancapkan. Kemudian majulah seorang ustad senior Al-Ustadz Abdullah Shalih Hadhromi yang mengisi tausiyah tentang kematian. “Setiap orang pasti mati namun cita-cita kita adalah mati Husnul Khotimah. Sedangkan saya sendiri memiliki harapan untuk mati di Tanah Palestina. Mati melawan Zionis Yahudi.” Pidato beliau berkobar saat di area pemakaman tersebut disaksikan oleh pelayat yang sangat banyak.

Setelah rangkaian pemakaman selesai, semua pun bubar meninggalkan pusara. Ada yang masih mengabadikan pusara dengan kamera dan juga melanjutakan doa. Itulah kenangan bersama guru kami Ust. Faiz Najih al-Bin Sa’id. Semoga Allah menerima semua amal beliau dan mengampuni semua dosa beliau hingga kita pun menyusulnya dengan Husunul Khotimah dan dipertemukan dengan beliau di syurgaNya kelak. Aamiin.

Penulis:
@nd.





Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Suara Nada Islami