KAJIAN ISLAM DAN KARYA PENA

KAJIAN ISLAM YANG MEMUAT HAL-HAL BERKAITAN TENTANG PENGETAHUAN ISLAM BAIK SADURAN ATAU KARYA ASLI. BAIK HAL AKIDAH, MUAMALAT, FIKIH ATAUPUN TASKIYATUN NUFS (PENYUCIAN HATI)

JUGA KARYA PENA UMUM BERUPA PUISI CERPEN DAN KARANGAN ATAU ILMU PENGETAHUAN UMUM DAN PENELITIAN ILMIAH

Jumat, 08 Maret 2013

SYURGA ITU INDAH

TAFSIR SURAT AR-RAHMAN AYAT 47-53
(SYURGA ITU INDAH)
Rangkuman Kajian Ba’d Maghrib di Masjid Abu Dzar Al-Ghifari
Hari Rabu, Tertanggal 10 Dzulqo’dah 1433 / 26 September 2012
oleh: Ust. Abdullah Shaleh al-Hadhromi
A.      Ayat: 46 & 47, “فَبِأَيِّ آلَاء رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ, وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَان
Allah berfirman, “Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua syurga. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan  (Hai Manusia dan Jin)?”.
Tatkala mambahas tentang nerakanya Allah yang amat dahsyat maka otomatis kita membahas bagaimana Al-Khauf (takut) kepada Allah, dan kini tatkala kita membahas tentang syurganya Allah yang sangat nikmat maka disinilah pembahasan Ar-Roja’ (berharap) dimulai. Karena Al-Khauf dan Ar-Raja’ merupakan kedua sayap yang kita akan terbang menghadapNya dengan keselamatan insya Allah. Pendapat ini didukung oleh pendapat Atho’ al-Khurasani rahimahullah ta’ala menyatakan, “Ayat ini turun secara khusus diturunkan kepada Abu Bakar As-Siddiq radhiyallahu ‘anhu. Beliau termasuk orang yang takut kepada Allah Ta’ala dan mendapatkan dua syurga itu.”
Ibnu Abi Hatim rahimahullah ta’ala menyatakan riwayat dengan sanadnya sampai kepada ‘Athiyyah ibn Qaiz rahimahullah ta’ala, dimana beliau mengatakan, “Ayat ini turun kepada orang yang mengatakan bakarlah aku dengan api agar Allah tak bisa menemukan aku.” Ini merupakan ketakutan orang itu terhadap Allah sampai dia meminta dirinya agar dibakar menjadi abu, menurutnya apabila dia menjadi Abu agar Allah tidak menemukannya, akan tetapi tetap saja Allah menyatukan jasadnya kembali dan menanyakannya, “Mengapa kau berbuat demikian?” Maka orang itu menjawab, “Karena aku begitu takut kepadaMu akan dosa-dosaku.” Maka Allah pun mengampuninya. Hikmah dari kisah ini adalah: tampak oleh manusia yang lain bahwa dia merupakan orang yang kufur terhadap Allah karena dia menyatakan bahwa Allah tidak mampu menghidupkannya dengan menyusunnya kembali. Akan tetapi dia melakukannya karena sangat takut kepada Allah dan belum memiliki ilmu tentang hal itu. Maka tatkala dia taubat, taubatnya itu diterima oleh Allah Ta’ala walau terlambat, karena memang ilmu baru sampai padanya tatkala dia berhadapan langsung dengan Allah. Oleh sebab itu apabila ada orang yang melakukan dosa kemudian taubat dengan taubatan nashuha dengan penyesalan dan janji tidak mengulanginya kembali dan menyelesaikan urusan dengan orang lain apabila ada dosa yang terkait dengan orang lain, Allah akan memaafkannya. Selain itu kita jangan sekali-kali menghina orang yang berbuat dosa. Dinasehati dan dilarang adalah haq, akan tetapi menghina adalah dilarang. Dan tidaklah kita tergesa-gesa memvonis seseorang ahli neraka tatkala orang itu berbuat sesuatu yang tidak benar, karena boleh jadi orang itu memang benar-benar belum mengetahui ilmunya.
Pendapat yang benar, ayat ini adalah umum baik turun kepada Abu Bakar, orang yang takut dengan meminta dibakar dan orang yang lain.
Ibnu Katsir menyatakan makna dari ayat ini, yaitu, “Allah Ta’ala berfirman, ‘Barangsiapa yang takut di hadapan Allah di hari kiamat nanti dan dia mengendalikan hawa nafsunya, tidak melampaui batas, tidak mengutamakan dunia dan dia meyakini akherat itu lebih baik dan lebih kekal kemudian dia melaksanakan kewajiban-kewajiban yang ia perintahkan dan dia menjauhi larangan yang dilarang Allah. Maka di hari Kiamat nanti di sisi Robnya ada dua syurga.”
Ibnu Katsir juga membawakan riwayat dimana sandanya sampai kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Dua syurga yang terbuat dari perak, semua bejana terbuat dari perak dan juga apa yang ada di dalam syurga itu semua dari perak. Serta dua syurga lagi dari emas begitupula bejana-bejanannya dan apa-apa yang ada di dalam syurga itu terbuat dari emas. Antara dua syurga itu dengan wajah Allah Ta’ala terhalangi oleh pakaian kebesaran Allah Ta’ala mereka itu ada di syurga ‘Adn.”
Ibnu Katsir juga membawakan riwayat dimana sanadnya marfu’ sampai kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dari Hammad, “Ada empat syurga. Yaitu dua syurga untuk orang Muqarrabin, dan dua syurga dari perak untuk Ashabul Yamin. Sebagaimana di Surat Al-Waqi’ah yang teradapat tingkatan-tingkatan orang yang didekatkan.” Dari ibnu Katsir lagi dengan sanad sampai kepada Rasulullah melalui jalan Abu Darda radhiyallahu ‘anhu, ketika itu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam membaca ayat ini, kemudian Abu Darda bertanya, “Bagaimana kalau dia pernah berzina dan mencuri?” Rasulullah menjawab, “وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَان“ Abu Darda mengatakan lagi, “Bagaimana kalau dia pernah berzina dan mencuri?” Rasulullah mengatakan, “وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ”. Sahabat Abu Darda tanya lagi, “Bagaimana kalau dia pernah berzina dan mencuri?” Rasulullah, “Walaupun kamu berat menerima ini.” Lalu Abu Darda meriwayatkan riwayat meriwayatkan lainnya, “Orang yang takut kepada Allah maka mereka tidak mungkin berzina dan mencuri.”
Ayat ini umum bahwa orang yang takut kepada Allah akan masuk ke dalam syurga baik dari kalangan Manusia dan juga Jin. Maka ini merupakan alasan yang paling kuat bahwa Jin juga masuk syurga apabila taat dan masuk neraka apabila durhaka. Maka Jin adalah makhluk mukallaf.
B.      Ayat 48 & 49, “فَبِأَيِّ آلَاء رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ, ذَوَاتَا أَفْنَانٍ
Ayat ini mulai menceritakan keindahan syurga Allah ta’ala. Ibnu Katsir menyatakan, “Bahwa pohon syurga itu memiliki dahan-dahan yang warnanya hijau indah, dimana masing-masing dahan itu bergelantungan buah-buahan yang sudah matang dan siap untuk dipetik.”
Sedangkan Atho’ al-Khurasani dan yang lainnya menyatakan, “Pohon dan dahannya sangat banyak dan lebat.” Ikrimah menyatakan, “Naungan dahan itu sampai ke temboknya (maksudnya naungannya sangat luas).” Mujahid dan ikrimah serta lainnya juga menyatakan, “Dahan itu berbentuk lurus dan memanjang.” Ibnu Abbas menyatakan, “Warna-warni” jadi pohonnya, dahannya, sungainya dan apa yang ada di dalamnya itu berwarna-warni dengan menyejukkan pandangan.
Bagaimana pohon yang ada di dalam syurga?
At-Tirmidzi meriwayatkan sanadnya hingga ke Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dimana ketika itu Beliau menceritakan tentang Sidratul Muntaha, “Naungannya pohon syurga itu, bila pengendara di bawah pohon-pohon syurga maka ia masih berada di bawah naungan itu hingga perjalanan seratus tahun.” Maksudnya perjalanan onta yaitu perjalanan pada jaman Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dahulu. Beliau Shalallahu ‘alaihi wasallam juga menyatakan, “Ada seratus pengendara onta yang semuanya dapat bernaung dalam satu naungan sebuah pohon di syurga. Serta di bawah pohon itu terdapat kupu-kupu dari emas, buahnya sebesar genthong.”
Maka Allah berfirman, “ذَوَاتَا أَفْنَانٍ
C.      Ayat 50 & 51, “فِيهِمَا عَيْنَانِ تَجْرِيَانِ -٥٠- فَبِأَيِّ آلَاء رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ -٥١-
Di dalamnya terdapat kedua mata air yang mengalir untuk mengairi pohon-pohonan syurga. Dua mata air itu yang satu namanya Tasnim dan yang satunya namanya Salsabil. ‘Athiyyah menyatakan, “Yang satu mata air itu tawar, dan yang satunya lagi dari khamr yang lezat untuk diminum.” Perlu diingat bahwa khamr di akherat itu berbeda dengan di dunia, dimana di dunia menyebabkan kepala pening dan hilang akal (mabuk) sedangkan di syurga tidak demikian halnya.
D.      Ayat 52 & 53, “فِيهِمَا مِن كُلِّ فَاكِهَةٍ زَوْجَانِ -٥٢- فَبِأَيِّ آلَاء رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ -٥٣-
Berbagai macam buah-buahan yang sudah mereka ketahui di sana ada dan yang lebih baik dari apa yang mereka ketahui di sana ada. Bahkan di sana (syurga) yang tidak pernah dilihat oleh mata, tak pernah terdengar oleh telinga dan tak pernah terlintas dalam hati. Ibnu Abbas, “Tidak ada yang ada di dunia ini dari yang manis dan pahit semua ada di syurga. Hingga buah Handzallah[1] itu pun juga ada di syurga.” Akan tetapi berbeda antara buah dunia dan syurga walaupun nama dan bentuknya sama. Maka ibnu Abbas mengatakan, “Tiadalah apa-apa yang ada di dunia dan di akherat itu sama melainkan namanya saja.” Sama seperti anggur, dimana anggur di Indonesia dan di luar negeri berbeda walaupun namanya sama dan bentuknya juga hampir sama. Akan tetapi hakekatnya berbeda-beda.
Itulah tafsir ringkas Surat Ar-Rahman: 47 – 53 yang dapat kami ringkas dan susun dari kajian ustadzuna Abdullah Shalih al-Hadrami hafidzahullah ta’ala. Semoga bermanfaat dan menambah ilmu serta pahala kita. Aamiin.
Malang, 13 Dzulqo’dah 1433 / 29 September 2012.
@nd.


[1] Buah yang sangat pahit yang dikenal oleh Masyarakat Arab
 
Bagi yang ingin mendownload via PDF silahkan rujuk
Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Suara Nada Islami

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berdiskusi...Tangan Kami Terbuka Insya Allah