KAJIAN ISLAM DAN KARYA PENA

KAJIAN ISLAM YANG MEMUAT HAL-HAL BERKAITAN TENTANG PENGETAHUAN ISLAM BAIK SADURAN ATAU KARYA ASLI. BAIK HAL AKIDAH, MUAMALAT, FIKIH ATAUPUN TASKIYATUN NUFS (PENYUCIAN HATI)

JUGA KARYA PENA UMUM BERUPA PUISI CERPEN DAN KARANGAN ATAU ILMU PENGETAHUAN UMUM DAN PENELITIAN ILMIAH

Selasa, 04 September 2012

Nikmat Tuhan yang Manakah yang Kamu Dustakan

TAFSIR SURAT AR-RAHMAN AYAT 10-16
(NIKMAT TUHAN YANG MANAKAH YANG KAMU DUSTAKAN)

Rangkuman Kajian Ba’d Maghrib di Masjid Abu Dzar Al-Ghifari
Tertanggal 22 Rabi’ul Awwal 1433 / 15 Februari 2012
oleh: Ust. Abdullah Shaleh al-Hadhromi

PENDAHULUAN
Allah berfirman, “Dan Allah telah meratakan bumi untuk makhluk(Nya). Di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang. Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (Ar-Rahman: 10-11). Dengan Firman tersebut dinyatakan bahwa Allah adalah Pencipta (Al-Kholiq), Pemilik (Al-Malik) dan Pengatur (Al-Mudabbir) serta memberikan rizki (Ar-Roziq). Inilah makna “Sifat Rububiyah Allah”, yaitu Allah adalah Rob dimana fungsi Rob adalah Pencipta, Pemilik dan Pengatur. Semua manusia memiliki fitrah dan dia mengaku secara fitrahnya bahwa semuanya itu milik Allah, yang mengatur Allah dan yang menciptakannya juga Allah, hanya saja mereka mengucapkan menurut bahasa yang mereka pahami bahwa pencipta, pemilik dan pengatur itu ada.

“HANYA SAJA” tidak cukup hanya meyakini adanya Tuhan sebagai pencipta, pemilik dan pengatur tapi harus tunduk dan taat terhadap syariat yang Ia perintahkan melalui Rasul (utusan) yang diutusNya. Inilah makna ‘Uluhiyyah, derajad keimanan yang dapat mengantarkan seseorang dalam keabsahannya menuju ridho Allah ataukah tidak, untuk dapat dimasukkan ke dalam syurga ataukah neraka, beriman ataukah kafir, munafik ataukah mukmin, ahli taat ataukah ahli maksiat. Semua diatur dalam lingkup syariat yang tergabung dalam Rububiyah Allah Ta’ala. Sebagaimana Abu Jahal, Lahab, dan kawan-kawannya yang mereka meyakini adanya tuhan pencipta, pemilik dan pengatur kehidupan, mereka katakan Allah yang demikian. Hal ini diambil dari pernyataan Allah, “Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab: ‘Allah’. Maka katakanlah "Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?"
Hal ini berarti mereka meyakini Rububiyah Allah, akan tetapi mendustakan UluhiyahNya dengan menyekutukan Allah serta berbuat yang menyimpang dari ajaran Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam yang mana semua manusia diperintah untuk berkiblat kepadanya dalam hal syariat. Maka lihatlah fenomena saat ini!

AYAT 10
Merujuk pada Firman Allah, “Dan Allah telah meratakan bumi untuk makhluk(Nya)” (Ar-Rahman: 10). Di Bumi inilah Allah menciptakan semua kebutuhan manusia, bukan hanya itu saja Allah juga mengkondisikan Bumi ini untuk manusia. Bagaimana kita lihat mulai dari tanah yang dapat dicocok tanami berbagai tumbuh-tumbuhan, berbagai bahan tambang serta lautan dan sebagainya. Atmosfir bumi dibanding atmosfir planet yang lainnya, sangat berbeda jauh. Seakan-akan bumi benar-benar memiliki segala hal untuk melindungi manusia dan itu memang benar-benar kehendak Allah untuk menciptakan Bumi ini untuk manusia. Pikirkan: mulai dari jenis atmosfirnya yang mengandung berbagai molekul udara dengan berbagai jenis ikatan kimianya. Tekanan dan kelembapan udaranya. Magnet Buminya. Graftasinya. Bahkan Magma Bumi yang ada di dalamnya hingga jenis molekul yang dikandungnya, semua berfungsi untuk mendukung kehidupan manusia. Apakah ini suatu kebetulan? temukan kehidupan di planet lain dalam Sistem Tata Surya apabila dapat, dan hingga kini para ilmuwan hanya menemukan “bekas” kehidupan di Planet Mars dan bukanlah kehidupan itu sendiri. Inipun masih praduga dan praduga. Adapun kehidupan di planet yang lain, maka manusia tak kan pernah tahu dan tak kan pernah menjamahnya karena Allah telah menetapkan bahwa saat kiamat inilah manusia berada di “Bumi” yang dibenturkan dan digoncang. Lihatlah Q.Sal-Zalzalah.

Allah menciptakan semua apa yang ada di bumi adalah untuk manusia. Ia berfirman, “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al-Baqarah: 29). Kemudian kita diciptakan Allah adalah untuk beribadah kepada Allah, walaupun Allah tidak membutuhkan kita karena memang itulah kehendakNya. Ia berfirman, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Adz-Dzaariyaat: 56).

AYAT 11
Allah berfirman: Di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang.”
Banyak sekali jenis buah-buahan di Bumi ini, semua untuk dimakan oleh manusia. Di Bumi ada musim-musim buah tertentu, sedangkan di akherat tidak ada seperti itu. Maka muncul fikih yang dinyatakan oleh para ulama bahwa, “Bila kita tidak memiliki penghalang-penghalang tertentu, kita dianjurkan untuk memakan buah yang tumbuh di musim itu. Karena buah yang ditumbuhkan di musim itu memang telah diseting oleh Allah agar tumbuh di musim itu sebagai kemaslahatan manusia yang hidup di musim itu.” Allahu a’lam bish shawwab.

Salah satu jenis buah-buahan yang disebutkan oleh Allah adalah “Kurma”, adalah tumbuh-tumbuhan yang memiliki kelopak mayang. Mengapa disebutkan kurma? karena buah yang memiliki manfaat yang sangat besar yang ditumbuhkan di bumi ini adalah kurma. Semua yang ada di dalam kurma itu bermanfaat mulai dari dedaunannya hingga akar-akarnya. Buahnya sangat banyak fungsinya, bisa segar, dikeringkan dan tak pernah darinya busuk bila disimpan lama sekali. Kurma dapat dijadikan makanan pokok maupun buah yang dimakan, begitupula untuk obat tapi rasanya manis, bahkan sebagai penangkal sihir. Sebagaimana Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan memakan 7 butir kurma Ajwa untuk menangkal sihir yang akan ditujukan pada seseorang.

AYAT 12
Allah berfirman, “Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya.
Allah menyatakan biji-bijian secara umum, sebagaimana padi, gandum dan yang lainnya. Biji-nijian ini sangatlah berguna bagi manusia dan memang dari biji-bijian inilah mayoritas manusia menjadikan sebagai makanan pokoknya.
Serta bunga-bunga yang harum baunya. Menurut penelitian bau yang harum dapat menambah kecerdasan, baik secara emosi maupun secara fisik. Maka parfum dupa yang wangi serta wangi-wangian yang lainnya dianjurkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana sabda beliau yang mencintai “Wanita dan Wewangian”. Begitupula disunnahkan tubuh dan rumah diusahakan wangi baunya untuk menjaga keharmonisan.

AYAT 13
Allah berfirman, “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Sebelum Allah Ta’ala menyebutkan nikmat-nikmat yang lebih besar lainnya, yang tidak dilihat di bumi dan tidak dirasakan saat ini, maka Allah bertanya kepada kita, “Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

Nikmat yang paling besar adalah nikmat “iman”. Coba renungkan, “Berapa banyak manusia di bumi ini lalu berapa banyak manusia yang dijadikan beragama Islam?”
“Berapa orang Islam yang di Bumi ini, namun beberapa orang yang memahami Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam?”

Kemudian ilmu yang sangat bermanfaat, betapa banyak orang-orang yang kesulitan untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat? sedangkan kita dimudahkan untuk menimbanya.

Nikmat yang besar lainnya adalah nikmat sehat wal afiat, bagaimana Allah menciptakan jantung yang kecil dan praktis dibanding jantung buatan manusia yang sangat tidak efektif untuk menopang kehidupan manusia secara normal.

Lalu Allah manannyakan, “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Mengapa kalian tidak mau tunduk kepada Allah, padahal sekian banyak dan sekian besar nikmat diberikan.

Maka di sinilah peranan syukur kepada Allah. Syukur memiliki 3 makna, yaitu:
1. Lisannya basah dengan pujian kepada Allah
2. Syukur dengan hati, yaitu kita meyakini bahwa semua hal yang terjadi alam ini serta nikmat yang ada di dalamnya adalah milik Allah.
3. Serta menggerakkan semua tubuh untuk taat kepada Allah dan tidak untuk durhaka kepadaNya.

Firman Allah, “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Menyebabkan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menegur para sahabat, karena tatkala turun ayat ini dan tatkala dibacakan kepada para sahabat radhiyallahu ‘anhum, mereka diam saja. Bahkan Jin jawabannya lebih baik dari mereka tatkala Rasulullah membacakan ayat ini kepada bangsa jin yaitu, “Tiada satupun nikmat-nikmatMu yang kami dustakan, pujian-pujian bagiMu.” Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu meringkas dengan, “Tidak ada nikmat yang kami dustakan Wahai Rob.”

AYAT 14-16:
Kemudian Allah menjelaskan tentang penciptaan manusia dan jin
Allah berfirman, “Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar, dan Dia menciptakan jin dari nyala api.

Maksud dari menciptakan manusia dari tanah kering adalah menciptakan “Adam”, karena setelahnya mausia berasal dari percampuran mani dan sel telur. Sebagaimana Allah berfirman, “Dia telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata” (An-Nahl: 4).

Manusia “Adam” dibentuk dari tanah yang dikeraskan dan memiliki ruang, sehingga bila diketuk memiliki suara. Sifatnya tenang walau ada faktor-faktor yang menjadikannya bergejolak.

Sedangkan Jin, diciptakan dari Api, sehingga sifat dasar mereka adalah buruk, bergejolak dan tidak tenang serta membakar. Maka manusia yang emosi karena marah adalah karena Jin (setan) yang merasuk/mengganggu tubuhnya membakar hatinya dan membakar pikirannya sehingga kata-katanya meracau, kondisinya tak terkontrol dan metanya memerah. Maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk mencegah marah dengan:
1. Membaca ta’awudz perlindungan dari Setan
2. Merubah posisi: bila sedang berdiri maka duduk, bila duduk maka berbaring
3. Berwudhu untuk mendinginkan unsur api yang dikobarkan oleh Setan dari kalangan Jin.

Maka Allah menciptakan unsur-unsur ini karena suatu kondisi yang memang sangat cocok kepada mereka, dan ini adalah nikmat yang sangat besar dari Allah Ta’ala.

Kemudian Allah menanyakan “Masihkan ada nikmat yang didustakan atas nikmat-nikmat tersebut?”

KISAH I:
Ada beberapa kisah yang sangat menarik ketika para sahabat Haji dan Umrah. Salah satunya dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, “Kami pergi haji bersama Umar Ibn Khaththab di awal-awal beliau menjadi khalifah. Kemudian khalifah masuk ke Masjid al-Haram dan berdiri di hadapan Al-Hajar Al-Aswad (Batu Hitam di Ka’bah), kemudian dia berkata, ‘Sesungguhnya kamu hanyalah batu, tak bisa memberikan madharad (keburukan) dan manfaat (kebaikan). Andai aku tak pernah melihat Rasulullah menciummu, maka aku tak kan pernah mencium kamu.’”

Ini adalah semurni-murni beraqidah, yaitu selain beriman kepada Allah maka kita mengikuti Rasulullah sebagai bentuk tunduknya kita pada Allah yang memerintahkan kita untuk mengikuti ajaran RasulNya.

KISAH II:
Kisah dari Abdullah Ibnu Umar radhiyallahu a’anhu pernah berhaji dan menemui salah seorang Badui. Orang Badui ini dipanggil Abdullah ibn Umar dan ia pun dinaikkan di atas kendaraannya dan dikasih sorban kehormatannya. Orang Badui itu dimulyakan dan diberikan hal yang luar biasa. Maka ada orang yang bertanya, “Semoga Allah memberikan kebaikan atas keadaanmu. Wahai Abdullah, dia itu orang Badui kamu beri sedikit aja mereka sudah berterimakasih. Kenapa kau memberikan banyak sekali kehormatan kepadanya?” Maka Abdullah ibn Umar berkata, “Aku memulyakan orang Badui ini, karena ayahnya orang ini adalah sahabat Umar ibn Khaththab (ayah Abdullah ibn Umar). Dan aku mendengar Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam adalah bahwa bakti yang paling tinggi kepada orang tua itu adalah tetap menyambung hubungan dengan sahabat-sahabat orang tuanya.”
KISAH III:
Kisah dari Sahabat Abdullah ibn Umar radhiyallahu ‘anhu. Sahabat Abdullah ibn Umar melihat seorang laki-laki mengendong orang perempuan tua sambil thawwaf di Ka’bah. Lalu Abdullah ibn Umar bertanya, “Siapa ini?” Ia menjawab, “Ia ibuku, bagaimana menurut pendapatmu. Apakah aku telah menunaikan hak-hak ibuku?”. Abdullah Ibn Umar berkata, “Demi Allah, kebaikan apapun yang kamu berikan kepada ibumu, tak bisa menyamai rasa sakit ibumu tatkala melahirkanmu.”

Inilah renungan dari kami, semoga bisa menambah manfaat dan kebaikan untuk kita semua. Amiin...Allahumma Aamiin.

Selesai disusun di Malang
7 Rabi’uts Tsaniiy 1433 / 29 Februari 2012

@nd.



Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Suara Nada Islami

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berdiskusi...Tangan Kami Terbuka Insya Allah