KAJIAN ISLAM DAN KARYA PENA

KAJIAN ISLAM YANG MEMUAT HAL-HAL BERKAITAN TENTANG PENGETAHUAN ISLAM BAIK SADURAN ATAU KARYA ASLI. BAIK HAL AKIDAH, MUAMALAT, FIKIH ATAUPUN TASKIYATUN NUFS (PENYUCIAN HATI)

JUGA KARYA PENA UMUM BERUPA PUISI CERPEN DAN KARANGAN ATAU ILMU PENGETAHUAN UMUM DAN PENELITIAN ILMIAH

Rabu, 14 Maret 2012

MANISNYA ILMU SYAR'IYYAH


TAFSIR SURAT AR-RAHMAN AYAT 4
“MENGAJARNYA PANDAI BERBICARA”
(JILID I: MANISNYA ILMU SYAR’IYYAH)

Rangkuman Kajian Ba’d Maghrib di Masjid Abu Dzar Al-Ghifari
Tertanggal 10 Shafar 1433 / 4 Januari 2012
oleh: Ust. Abdullah Shaleh al-Hadhromi


Segala Puji Bagi Allah Yang Maha Pemurah, dariNya manusia diajarkan berbagai ilmu pengetahuan menurut apa yang dikehendakiNya. Semoga shalawat serta salam tetap tercurah kepada Rasulullah Muhammad beserta keluarganya, para sahabatnya dan ummatnya yang ditegakkan di atas jalanNya hingga akhir zamman. Amma ba’d.

Pembahasan yang lalu tanggal 11 Muharram 1433 / 7 Desember 2011 dengan judul “JILID 1: PENTINGNYA TAFAKUR” yang mana penafsiran ayat ini berkaitan dengan Kholaqol Insaan. Marilah kita segarkan ulang ingatan kita, yaitu bila ditafsirkan ayat ke 3-nya saja maka ada tiga perbedaan pandangan ahli tafsir terkait ‘Siapa’ manusia yang dimaksud. Perbedaan pandangan itu yaitu: (1) Manusia secara keseluruhan sebagai nama makhluk; (2) Nabi Adam ‘alaihissalam; (3) Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam. Maka tatkala al-Insaan dikaitkan dengan manusia, maka al-Bayaan berkaitan dengan ilmu yang diberikan kepada manusia, yaitu: (a) Allah telah menciptakan manusia dan telah mengajarkan berbicara dan mengajarkan pengetahuan agar mereka bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk (pendapat dari Hasan al-Bashri); (b) Allah menciptakan manusia dan mengajarkan kepada mereka halal dan haram (pendapat dari Qatadah); (c) Allah menciptakan manusia dan mengajarkan pengetahuan tentang apa yang ia bicarakan dan apa yang ia dengar (pendapat dari Abdullah ibn Ka’ab); (d) Allah menciptakan manusia dan mengajarkannya kebaikan dan keburukan (At-Thoha); (e) Allah menciptakan manusia dan Allah mengajarkan kepada manusia itu jalan petunjuk dan jalan hidayah (pendapat menurut Ibnul Juraij); (f) Allah menciptakan manusia dan mengajarkannya membaca dan menulis. Maka dalam ilmu tafsir, hal ini tidak saling bertentangan karena yang satu dengan yang lainnya saling mendukung (pendapat menurut Ibnul Yamman).

Pada mulanya (saat kita dilahirkan) manusia adalah makhluk yang ‘bodoh’, sebagaimana dalam Q.S An-Nahl: 78 (artinya), “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” Inilah sifat dasar manusia yang sesungguhnya, kemudian Allah Ta’ala memberikan kepada kita berbagai fasilitas sebagaimana pendengaran, penglihatan, serta otak dan Qolb (menurut terjemahan kita adalah ‘hati’ dan beberapa penafsir menafsirkan ‘jantung’. Karena saat kita merasakan emosi, maka yang berpengaruh paling keras adalah jantung, begitupula dalam fenomena kedokteran, bahwa banyak pria dan wanita berubah sifat, pola makan dan nafsu seksualnya setelah melakukan transplantasi jantung. Allahu a’lam. dikopas dari artikel dalam group ngaji yuk. red). Oleh karena itu, kita dianjurkan memakai fasilitas yang diberikan Allah pada tempatnya sesuai dengan aturan yang ditetapkanNya, apabila tidak maka hal ini adalah kedzaliman. Maka semuanya adalah diperuntukkan guna mengambil pelajaran agar kita bersyukur.

Oleh karena itu Imam Ahmad ibn Hambal rahimahullah Ta’ala mengatakan, “Ilmu itu tiada tandingannya bagi orang yang benar niatnya.” Kelezatan ilmu sangat nikmat dirasakan dan tidak ada yang dapat menandinginya, senada dengan hal itu Imam Syafi’I rahimahullah Ta’ala menuturkan bahwa beliau ingin semua tubuhnya ada telinganya agar dapat mendengarkan ilmu dari segala penjuru. Hanya manisnya ilmu ini seringkali banyak orang tidak merasakannya karena sibuk dengan fitnah yang menimpa dirinya serta hal-hal yang tidak berfaedah. Ilmu yang indah dan manis dibahas oleh Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah dalam kitabnya “Miftadaaris Saa’adah” dalam 3 jilid.

Ilmu itu lebih penting dari harta. Apabila kita perhatikan nominal harta bila dilihat secara tampak akan berkurang apabila dibelanjakan (hanya saja akan dilipatgandakan oleh Allah secara ‘tidak langsung’ atau tidak tampak bila diamalkan), berbeda dengan ilmu karena semakin kita dermawan mengamalkan ilmu maka ilmu yang diberikan Allah Ta’ala lebih banyak lagi dengan asal semua ilmu yang bermanfaat kita berikan semua dan dengan niat yang ikhlas karena Allah. Imam Ahmad ibn Hambal rahimahullah Ta’ala ditanya tentang ilmu yang tiada tandingannya. Maka ada yang menanyakan, “Bagaimana maksudnya?” Maka beliau menuturkan, “ilmu itu disebarkan dengan niat memberantas kebodohan dirinya sendiri dan orang lain.”

Maka tentang masalah ilmu ini tentu ada kaitan yang sangat erat dengan Q.S Al-Ashr. Surat pendek dan yang terpendek, akan tetapi Imam Syafi’I rahimahullah Ta’ala menyatakan, ”Kalau sekiranya manusia merenungkan surat ini, dipelajari dan diamalkan maka dengan surat ini saja cukup.” Begitu pula para sahabat Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam membacakan Q.S Al-Ashr bila akan berpisah.

A. Kandungan Ringkas Q.S Al-Ashr: 1-3
Alangkah baiknya kita simak sedikit dari kandungannya:

Dalam ayat ini Allah ingin menyampaikan satu pesan. Sebelum pesan itu disampaikan, Allah menekankan dengan tiga penekanan hebat yang menandakan pentingnya pesan itu, yaitu:
(1) Demi Masa: ini adalah sumpah yang tidak main-main (hanya saja khusus Allah boleh bersumpah kepada makhlukNya, bila manusia dilarang melakukannya dan harus bersumpah atas Nama Allah (Terletak pada ayat ke 1).
(2) Inna               : “Sesunggunya”, ini merupakan penekanan yang kedua (perhatikan bentuk huruf ‘Nun’ yang merupakan Nun tauqid. Bentuk penekanan dalam kaidah nahwu Bahasa Arab)
(3) Lafi               : “Benar-Benar”, ini merupakan penekanan ketiga (perhatikan bentuk huruf ‘Lam’ yang merupakan Lam tauqid). (Keduanya terletak pada ayat ke 2)
Keterangan yang diberikan adalah “Dalam Keadaan Merugi” bahwa semua manusia tak peduli tingkatan status, kelamin dan banyaknya harta semuanya pasti merugi. Kemudian Allah Ta’ala berfirman dengan kata ”Illa (kecuali)” hal ini terdapat pada ayat ke 3:

Kecuali orang-orang yang beriman:
(dan berilmu, karena tak mungkin orang dikatakan beriman tatkala dia tidak memiliki ilmu).

dan mengerjakan amal saleh:
Berarti hal ini adalah mengamalkan ilmunya
dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran:
Berarti ilmu yang dia miliki harus didakwahkan

dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran:
Bahwa menuntut ilmu itu haruslah sabar, baik sabar ketika mencari ilmu, ketika mengamalkan dan ketika mendakwahkan ilmunya.

Maka ada dua keindahan yang ada dalam ayat 3 tersebut, yaitu: (1) dengan berilmu dan mengamalkan ilmu itu maka menjadikan diri kita baik; dan (2) dengan mendakwahkannya serta sabar maka menjadikan orang lain baik. Sehingga kesimpulannya adalah menjadikan manusia itu baik dengan ilmu.

B. Kedudukan Ilmu dalam Islam Ditinjau dari Segi Ayat Qauliyyah
Maka tidakkah kita ingat Q.S Al-‘Alaq: 1-5?
Allah Ta’ala berfirman (artinya), “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran pena. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Dari ayat tersebut kita diperintahkan belajar baca dan tulis agar dapat memudahkan kita mengetahui apa yang sebelumnya kita tidak tahu.

Maka dengarkanlah kisah dari Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah (ditulis dalam artikel selanjutnya insya Allah, atau dapat didengarkan melalui rekaman yang dapat diunduh dalam link berikut:http://www.ziddu.com/download/18850796/mahulbayan-manisnyailmuwahyu-10shafar1433-4jan2012.3gp.html).

Ada kisah yang sangat indah oleh Atho’ ibn Rabbah radhiyallahu ‘anhu, beliau secara fisik benar-benar buruk dengan status mantan budak. Akan tetapi saat beliau thawwaf di Ka’bah, banyak orang mengelilinginya dan bertanya-tanya tentang sesuatu hal. Khalifah pun saat itu kalah kepopulerannya dibandingkan dengan Atho’ ibn Rabbah karena ilmunya.

C. Ilmu Agama adalah Ilmu yang Dimaksudkan dalam Ayat-Ayat Allah
Marilah kita simak Q.S At-Taubah: 122 (artinya) ,” Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.

Maka: Allah dalam surat ini hendak memerintahkan kepada Umat Muslim untuk membagi kedua kelompok dalam tugasnya, yaitu satu kelompok berperang dan satu kelompok lagi adalah mencari ilmu. Keduanya adalah Afdhal, karena: (1) Satu kelompok berjihad di jalan Allah melalui perang dalam rangka menjaga pertahanan; dan (2) Kelompok lainnya mencari ilmu dengan menghadiri majelis-majelis ilmu dalam rangka menjaga syari’at agama. Maka keduanya adalah “JIHAD” dan apabila mati keduanya Syahid, insya Allah. Hanya yang satu syahid dunia-akherat (dengan hukum-hukum mati syahid) dan yang satunya syahid akherat (dengan hukum-hukum mayat biasa akan tetapi keutamaannya sama dengan syahid).

Imam Bukhari dan Muslim rahimahullah Ta’ala, menyatakan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menyatakan, “Barangsiapa yang Allah menghendaki kebaikan padanya, maka Allah menjadikannya mengerti masalah agama.” Maka patutlah bersyukur apabila kita dimudahkan untuk belajar agama dan mudah untuk menghadiri majelis ta’lim.

Maka apa yang dimaksud Ilmu Agama? yaitu pengetahuan yang didapatkan dari Kabar Langit (wahyu) yang dibawa oleh para nabi, dan tidak sepatutnya kita untuk mengambil syari’at wahyu kecuali wahyu Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana Hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majjah dan yang lainnya dengan sanad Sahih bahwa Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesunggunnya para nabi itu tidak mewariskan dinar dan dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambil warisannya nabi maka ia mendapatkan bagian warisan yang sangat banyak.” Marilah kita rebutan warisan??? bukan warisan harta, uang, emas dan perak akan tetapi ilmu yang berasal dari Al-Qur’an dan As-Sunnah secara murni.

D. Allah Mengajarkan yang Halal dan yang Haram
Hadits Bukhari-Muslim (dan juga dalam Hadits Arba’in An-Nawawi), melalui jalan Sahabat Nu’man ibn Bashir radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Yang halal adalah jelas, dan yang haram juga telah jelas. Dan keduanya terdapat hal yang samar-samar (syubhat). Barangsiapa yang meninggalkan yang samar itu maka dia telah menjaga kehormatannya.”

Syubhat itu terjadi karena ketidaktahuan dan kurngnya ilmu, atau karena perbedaan yang sangat tipis sehingga ilmu yang dimiliki kurang menjangkau tentang hal itu. Maka lebih baik dihindari untuk menyelamatkan diri dari kesalahan.

D. Ilmu Umum (Ilmu Dunia) adalah Pendukung Naiknya Derajad dan Bukan Hal Utama
Penjelasan ini bukan diambil dari rekaman yang ada, akan tetapi diambil dari Kajian oleh Ust. Syukur Hafidzahullah Ta’ala saat beliau mengajar di Masjid As-Sallam pada Hari Ahad pagi, marilah kita simak:

Beliau menyatakan bahwa ilmu itu adalah penting, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, “Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Maka yang dimaksud berilmu yang dimaksud adalah ilmu agama, bukan ilmu dunia.

Ilmu dunia memang perlu untuk menunjang kekuatan Kaum Muslimin, memberikan kemajuan teknologi kepada ummat akan tetapi hal ini tidak menjadi suatu yang berarti (muspro: Jw) apabila tidak mengetahui dasar-dasar ilmu ‘wahyu’. Maka perhatikanlah ayat Allah Ta’ala berikut:
Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum 'Aad? (yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain, dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah dan kaum Fir'aun yang mempunyai pasak-pasak, yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri, lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu, karena itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab, sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.

Maka apakah yang mereka lakukan itu tidak dengan ilmu? pasti jawabanya “dengan ilmu”. Akan tetapi ilmu yang mereka miliki adalah ilmu dunia tanpa dilandasi ilmu akherat. Betapa hebatnya mereka hingga peradabannya begitu maju di jaman itu, akan tetapi mereka berbuat sewenang-wenang dan menyombongkan diri. Ilmu dunia itu memang perlu, akan tetapi tidak menjadi berarti apabila tidak dilandasi oleh ilmu syari’at.

Maka, dalam banyak hadits disebutkan bahwa ahli ilmu lebih utama daripada ahli ibadah tapi kurang ilmunya. Itulah yang dimaksudkan dengan orang-orang diangkat beberapa derajad karena ilmunya daripada orang yang kurang ilmunya. Alangkah baiknya apabila ia ahli ibadah dan berilmu, lebih baik lagi adalah ahli ibadah berilmu dan ia pun menguasai ilmu dunia yang menunjang keimannya. Allahu a’lam bish shawwab.

Disusun tanggal 16 Shafar 1433 / 10 Januari 2012
@nd

nB:
1. Untuk mendengar rekaman asli Ust. Abdullah dengan materi yang tertulis, silahkan download link
http://www.ziddu.com/download/18850796/mahulbayan-manisnyailmuwahyu-10shafar1433-4jan2012.3gp.html

2. Untuk mendownload file PDF, silhkan klik Link

http://www.ziddu.com/download/18872349/Ayat4-JilidI-ManisnyaIlmuSyariyyah.rtf.pdf.html

Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Suara Nada Islami

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berdiskusi...Tangan Kami Terbuka Insya Allah