KAJIAN ISLAM DAN KARYA PENA

KAJIAN ISLAM YANG MEMUAT HAL-HAL BERKAITAN TENTANG PENGETAHUAN ISLAM BAIK SADURAN ATAU KARYA ASLI. BAIK HAL AKIDAH, MUAMALAT, FIKIH ATAUPUN TASKIYATUN NUFS (PENYUCIAN HATI)

JUGA KARYA PENA UMUM BERUPA PUISI CERPEN DAN KARANGAN ATAU ILMU PENGETAHUAN UMUM DAN PENELITIAN ILMIAH

Rabu, 29 Februari 2012

PERHATIKAN APA YANG DIBICARAKAN BUKAN SIAPA YANG MEMBICARAKAN

Wahai saudra/i q, teringat saat q dahulu bekerja di suatu instansi. Saat di kantor diadakan pengajian, seorang ibu memuji2 seorang ustad, kemudian berkata, "Saya paling tidak senang dg ustad2 yang dia tidak melakukan apa yang disampaikannya..." intinya beliau tidak senang mendengarkan ceramah ustad yg seperti itu.

Memang Allah tidak suka dg orang yg berbicara tapi tidak berbuat. Rasulullah jg mengabarkan mereka berputar-putar&meringkik bagai keledai, lalu penghuni neraka bertanya, "Kenapa kau, bukankah dulu kau orang yg menyuruh kebaikan?" Dia menjawb, "Ya, tapi q tak lakukan apa yg q bicarakan."

Tapi ingatlah...
Bukankah Allah berfirman, "Laha maa katsabat wa 'alaiha makhtasabat? (baginya pahala atas kebaikan yg dikerjakannya dan siksa atas dosa yg dilakukannya). Tahukah bahwa Allah memberikan 2 pahala bagi orang yg menyampaikan kebenaran, hatinya menginginkan dan itu adalah catatan kebaikan serta lisannya mengucapkan kebaikan, dan itu juga catatan kebaikan. Tapi, tatkala ia berdosa ia hanya memiliki 1 catatan keburukan, karena keburukan yg terbersit tidaklah ada dosa atasnya sebelum ia ucapkan atau lakukan.

Bukankah Ia berfirman, "Laa yukalifullahu nafsan ila wush'aha (Allah tak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya)?
Boleh jadi seseorang mengucapkan kebenaran yg tidak dia lakukan, karena dia tak mampu melakukan sebab mendapat tekanan tertentu, kondisi tertentu dan alasan tertentu yang Allah menerimanya. Boleh jadi ia ingin melakukan apa yg ia katakan, hatinya benar-benar ingin ia bergerak, tapi tubuhnya tak mampu lagi.

Wahai saudara/i ku, ustad juga manusia, kyai juga manusia, syaikh juga manusia dan ulama juga manusia. Mereka bisa khilaf, salah, alpa dan lupa. Tapi apakah kau mengabaikan kebenaran yg keluar dari lisan-lisan mereka?

Ketahuilah, bahwa ayat Kursi adalah ayat yg pernah diberitahukan setan dlm bentuk jin kepada sahabat Abu Hurairah, setelah dilaporkan kepada Rasulullah, Beliaupun menjawab, "Saat itu ia berkata benar, tapi ia adalah pendusta."
Dan bukankah hadits juga mengabarkan bahwa Rasulullah pernah berdialog dg iblis, yang ia telah diperintah Allah berkata jujur. Bila tidak jujur, dia kan melebur? Betul-betul dia berkata jujur hingga dari perkataannya kita tahu apa usaha Iblis menyesatkan manusia. Ulama pun menulis buku "Talbis Iblis" (tipu daya iblis) dari keterangan hadits ini.

Iblis, makhluk terburuk dari seluruh makhluk di jagad raya, tapi tatkala berbicara kebenaran (kebenaran itu) kita terima.Lantas bagaimana dengan ustad, kyai dan para ulama?

Wahai saudara/i ku, "Perhatikan Apa yang Dibicarakan dan Jangan kau Perhatikan Siapa yang Membicarakan"

*muhasabah pagi"
Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Suara Nada Islami

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berdiskusi...Tangan Kami Terbuka Insya Allah