KAJIAN ISLAMI DAN KARYA PENA

KAJIAN ISLAMI YANG MEMUAT HAL-HAL BERKAITAN TENTANG PENGETAHUAN ISLAM BAIK SADURAN ATAU KARYA ASLI. BAIK HAL AKIDAH, MUAMALAT, FIKIH ATAUPUN TASKIYATUN NUFS (PENYUCIAN HATI)

JUGA KARYA PENA UMUM BERUPA PUISI CERPEN DAN KARANGAN ATAU ILMU PENGETAHUAN UMUM DAN PENELITIAN ILMIAH

Kamis, 22 Desember 2011

DI BALIK LIRIK SYAIR MINAHASA “SI PATOKA’AN”

DI BALIK LIRIK SYAIR MINAHASA
“SI PATOKA’AN”

Sayang-sayang, Si Patokaan
Matego tego gorokan Sayang
Sayang-sayang, Si Patokaan
Matego tego gorokan Sayang

Sako mangewo tanah man jauh
Mangewo milei lek lako Sayang
Sako mangewo tanah man jauh
Mangewo milei lek leko Sayang

Lirik syair ini kembali kudengar saat diriku berkunjung ke sebuah rental komputer. Sekilas kudengar yang menyanyi adalah anak kecil dengan nada lagu yang memang disetting untuk anak-anak, atraktif, lucu dan sangat menggairahkan semangat. Teringat-ingat masa SD dulu, saat aku dan teman-teman diutus menyanyi oleh guruku dalam pelajaran kesenian. Terkadang kami diutus maju ke depan kelas untuk menyanyikan beberapa lagu, dan saat menyanyikan lagu ada seorang teman yang senang sekali menyanyikan lagu ini. Padahal dia adalah orang Jawa, bukan orang Minahasa. Satu kelas pun tak ada yang berasal dari Minahasa.

Sejak dahulu hingga sebesar ini (hehe emange sebesar apaan?? :) diriku cuek terhadap syair ini. Menyanyikannya aja jarang, ditambah lagi aku tak seneng musik dan nyanyian kecuali lagu-lagu tertentu. Dahulu saat aku masih SMP dan SMA aku paling seneng memainkan organ atau piano. Saat di SMA aku sering ke perpustakaan hanya untuk memainkan piano besar yang dipampang di pojok perpus, temen-teman kadang bergerombol kalau aku memainkan musik. Tapi sayang, lagu yang kumainkan ya itu-itu aja..hehe.

Namun, alhamdulillah setelah aku mendengar hadist yang diriwayatkan dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Di akhir zaman nanti akan ada peristiwa dimana orang-orang ditenggelamkan ke dalam bumi, dilempari batu dan diubah wajahnya”, lalu ada yang bertanya, “Bilamana hal itu terjadi Rasulullah?”, Beliau Shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab,”Tatkala alat-alat musik dan para penyanyi telah merajalela” (HR. Ibnu Majjah dengan sanad sahih yang ditahqiq oleh Muhammad Fu’ad ‘Abdul Baqi’), maka kesenangan itu saya tinggalkan dan berusaha untuk tetap istiqomah di dalamnya. Sampai-sampai keyboard di rumah sekarang sudah hampir menjamur karena tak ada yang pakai, padahal dahulu alunannya sering terdengar. Sayang, permasalah ini bukanlah hal yang kita bahas..hehe. Yuk mari kita ke pembahasan utama:

Setelah mendengar lagu yang diputar di rental itu, aku jadi penasaran. Satu penasaranku, ‘apa makna syair Si Patokaan’ yang dahulu pernah temanku nyanyikan sewaktu kecil? Hanya bisa baca dan nyanyi namun tak tahu arti. Kalau toh artinya buruk, mengapa dinyanyikan anak-anak kecil jaman dahulu? Aku tak bilang jaman sekarang, karena anak-anak kecil saat ini sudah matang sebelum waktunya gara-gara nyanyian dan syair-syair nafsu yang terpaksa harus rela mereka makan sebagai bentuk korban dari orang tuanya, saudaranya, pembantunya bahkan gurunya. Aku menuliskan hal ini bukan berarti aku menyuruh para pembaca untuk turut menyanyikannya, hanya saja aku ingin memaparkan arti dan makna dari syairnya serta merefleksikan kepada pembaca tentang semangat orang-orang terdahulu untuk mencari ilmu serta ikhtiar mereka dalam menjemput rizki. Inilah arti dari Syair Si Patokaan itu:
*Sayang-Sayang Si Patokaan: “Wahai Sayangku Si Patokaan”. Si Patokaan merupakan orang-orang yang termasuk dalam wilayah Minahasa di Propinsi Sulawesi Utara. Sayang, adalah kata panggilan cinta bagi seseorang (Bahasa Melayu).
*Matego tego gorokan Sayang: ‘Orang-orang pada sakit-sakitan Sayang’. Matego sebenarnya ditulis matigo-tigogorkan. Diambil dari kata ‘tigor’ yang bermakna terseok-seok. Bahasa Tonasa diartikan sebagai pucat kekuning-kuningan dan sakit-sakitan.
*Sako mangewo tanah man jauh: Bila kau pergi ke tanah yang jauh (bisa bermakna merantaulah!)
*Mangewo milei lek lako sayang: Maka pergilah dengan hati-hati Sayangku!

Syair ini merupakan syair kuno yang sering disampaikan seorang ibu dari daerah Minahasa kepada anak laki-lakinya yang sudah baligh tatkala seorang anak itu telah diwajibkan mencari nafkah sendiri. Syair ini menunjukkan rasa kasih sayang seorang ibu kepada anaknya yang sebenarnya para ibu tak tega ditinggal anaknya. Namun apa boleh buat, sang ibunda mau tak mau harus merelakan anaknya pergi tuk menjemput rizki dan menuntut ilmu di negeri seberang. Ketegaran dan ketabahan seorang ibu pun diuji, kesuksesan pendidikan Sang Ibu kepada anaknya pun menjadi bukti bahwa sang ibu memiliki peranan besar terhadap ketangguhan generasi muda.

Hal yang membuatku terkesan adalah, bagaimana syair ini memotivasi kita untuk bersemangat dalam meraih cita-cita, bersemangat dalam menuntut ilmu dan mencari nafkah.
1. Permasalahan mencari nafkah dalam Islam telah ditekankan melalui Al-Qur’an dan Hadist:
a. Allah Ta’ala berfirman, “Jika selesai mengerjakan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia-Nya, dan perbanyaklah mengingat Allah agar engkau beruntung (Al-Jumu’ah: 10)
b. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ''Sungguh pagi-pagi seorang berangkat, lalu membawa kayu bakar di atas punggungnya, ia bersedekah dengannya dan mendapatkan kecukupan dengannya, sehingga tidak minta-minta kepada orang lain, jauh lebih baik baginya daripada meminta ke orang lain, mereka memberinya atau menolaknya. Ini karena tangan yang di atas jauh lebih baik daripada tangan di bawah, dan mulailah dari orang yang menjadi tanggungan Anda.'' (HR Muslim dan Turmudzi dengan sanad sahih).
c. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ''Orang yang berusaha keras mengejar kesejahteraan dunia dengan cara-cara yang benar, dengan menjauhkan diri dari meminta-minta kepada orang lain untuk membiayai keluarganya, dan bersikap baik kepada tetangganya, maka pada hari kiamat dia akan dibangkitkan Allah dengan wajah cemerlang seperti bulan purnama.'' (HR Abu Naim dengan sanad yang masih belum diketahui kesahihannya

Dapat diketahui bahwa syair Si Patokaan tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Syair itu bila kita perinci mengandung motivasi kepada generasi mudanya untuk terus berupaya mandiri. Para ibu benar-benar menjadikan anaknya berpikiran dewasa dan tangguh dalam mendidik anaknya, tatkala mereka telah beranjak dewasa sang ibu terus memotivasinya untuk merantau guna mendapatkan nafkah yang layak. Motivasi yang mengandung pendidikan namun sarat akan kasih sayang dan fitrah seorang ibu. Sang Ibu paham bahwa merantau itu sangat berat, Sang Ibu juga paham bahwa anaknya akan berpayah-payah dan bercapek-capek dalam merantau di negeri seberang, maka dari itu Sang Ibu mendoakannya dan mengingatkan anaknya untuk selalu berhati-hati dan menjaga diri mereka.

2. Dalam menuntut ilmu:
a.  Allah Ta’ala berfirman, “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajad” (Al-Mujadillah: 11).
b. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Menuntut ilmu adalah wajib atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah)
c. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.” (Muttafaq ‘alaih)
d. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa keluar dalam rangka thalabul ‘ilmi (mencari ilmu), maka dia berada dalam berjuang di jalan Allah hingga kembali.” (HR. Tirmidzi, dengan sanad hasan)

Bahwa orang Minahasa pun ternyata telah mengetahui tentang bagaimana peran ilmu pengetahuan, mereka sangat mengormati orang-orang yang berilmu daripada yang tidak berilmu. Untuk itulah banyak laki-laki Minahasa saat mereka mencapai usia remaja pergi merantau untuk mencari ilmu yang mereka butuhkan sebagai bekal kehidupannya dan kematiannya, sehingga Sang Ibu dengan kasih sayangnya pun memotivasi anaknya untuk merantau menuntut ilmu walau sang ibu sebenarnya sangat tidak tega dan benar-benar mengetahui bagaimana beratnya perantauan.

Walau mungkin saat syair ini dilantunkan banyak orang Minahasa yang belum mengenal Islam, namun dengan kondisi inilah kita bisa menarik hikmah melalui ayat-ayat KhauniyahNya (ayat-ayat yang berupa fakta alamiah) bahwa sesungguhnya manusia itu memiliki fitrah yang telah ditetapkan Allah Ta’ala, yaitu:
1.  Rasa kasih sayang seorang ibu kepada anaknya tak kan pernah mati sepanjang masa. Bahkan jasa ibu tak mungkin bisa dibalas oleh anaknya walau ia menggendong ibunya berthawwaf di Masjid al-Haram.
2. Pentingnya pendidikan yang menjadikan seorang anak bisa mejadi sosok manusia dewasa, mandiri dan tidak manja. Baik laki-laki maupun perempuan (tentunya dengan kadar yang berbeda)
3. Laki-laki dituntut untuk bekerja keras guna mencari nafkah untuk keluarganya. Mencari nafkah adalah wajib bagi laki-laki baligh guna memenuhi kebutuhan istri dan anak-anaknya kelak. Maka dari itu sekolah yang tinggi (untuk mencari ilmu dunia) diperbolehkan dan ditekankan, namun pendidikan tentang agama (Islam) memiliki derajad yang sangat tinggi dan sangat ditekankan, bahkan para ulama menganggap keutamaannya melebihi sholat malam. Bagi wanita persiapan untuk menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya perlu untuk dilakukan sedini mungkin tatkala masih anak-anak, terlebih saat ia menginjak baligh.
4.  Keutamaan ilmu dan fungsinya. Ilmu tidak hanya ditunggu, namun dikejar dan ditangkap. Ia bagaikan anak onta yang lepas (yang mau ngatakan anak kerbau, kambing, bahkan anak kucing ya silahkan..hehe gak mekso), kalau tak pandai-pandai mencari dan menangkap ia akan terus berkeliaran dan kita tak kan bisa mendapatkannya. Maka bertebaran di muka bumi dengan cara merantau dan mondar-mandir guna menuntut ilmu merupakan sesuatu yang wajib bagi manusia khususnya seorang Muslim. Namun perlu diingat, bahwa ilmu yang wajib dituntut oleh setiap individu adalah Ilmu Agama, maka bila seseorang merasa cukup dengan ilmu agamanya dan ia tidak mau menuntutnya lagi tatkala telah dewasa (terlebih ia sangat rajin menunutut ilmu dunia namun mengabaikan ilmu agama), maka sungguh ini merupakan suatu kerugian.
5. Bahwa manusia memiliki fitrah yang telah diciptakan Allah Ta’ala. Maka secara otomatis setiap orang yang masih dalam lingkup fitrah yang bersih (belum terkontaminasi), ia akan berlaku sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah, siapapun itu. Namun, lingkungan, pendidikan, teman dan buku bacaan yang bersifat racun karena mengikuti hawa nafsu serta setan menjadikan seseorang itu melenceng pada fitrah yang telah diciptakan. Dan ini merupakan ketentuan dari Allah Ta’ala untuk menguji keimanan manusia seluruhnya.

Mungkin itulah sedikit hikmah yang bisa dipetik dari Syair Minahasa berjudul ‘Si Patokaan’ yang kini lebih dikenal sebagai lagu daerah. Mungkin ada yang menyatakan, untuk apa lagu-lagu seperti ini dituliskan dan disyarah, itu kan haram!! Jawabnya adalah: Memang untuk musiknya adalah haram dan saya mengakuinya, namun bagaimana dengan syairnya?? Adakah dalil yang mengharamkannya?? Maka, marilah kita coba memandang dari sisi positifnya. Bila ada yang negatif dan menyalahi Al-Qur’an serta Sunnah mari kita buang, namun sisi positifnya mari kita ambil. Setiap kejadian dan suatu hal yang terjadi di alam semesta raya ini pasti di dalamnya mengandung hikmah yang mendalam. Ingatlah bahwa Islam ini adalah agama yang penuh hikmah, maka pintar-pintarlah kita dalam menarik hikmah dari sesuatu yang ada. Semoga Allah memaafkan kami bila ada suatu kesalahan yang kami sengaja ataupun tidak, Allahu a’lam.

@nd
Ditulis di
Malang, 3 Shafar 1432 (7 Januari 2011)  


Referensi:
1. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil. 2006. Asyraatush saa’ah (Ensiklopedia Hari Kiamat). Pustaka Ibnu Katsir: Bogor.
3. Agus Rasidi. Ar-Royyan-4711. http://www.mail-archive.com/jamaah@arroyyan.com/msg03576.html. Diakses tanggal 3 Shafar 1432 (7 Januari 2011)
4. A, Nizami. Keutamaan Menuntut Ilmu. http://syiarislam.wordpress.com/2007/09/27/keutamaan-menuntut-ilmu/. Diakses tanggal 3 Shafar 1432 (7 Januari 2011)
5. A, Nizami. Keutamaan Ilmu. http://media-islam.or.id/2007/09/14/keutamaan-ilmu/. Diakses tanggal 3 Shafar 1432 (7 Januari 2011)

File ini dapat didownload pada link:

Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Suara Nada Islami

3 komentar:

Haris Syah mengatakan...

Terima kasih

ARNANDA AJI SAPUTRA mengatakan...

Sama-sama, semoga bermanfaat

Anonim mengatakan...

Senang rasanya membaca artikel ini

Poskan Komentar

Silahkan Berdiskusi...Tangan Kami Terbuka Insya Allah